KABAR PERJALANAN : Ke China melihat jejak Deng Xiao Phing

Story Telling : Prof. Dr. Zainuddin Maliki MSi. (Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya 2003-2012)

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Baru saja saya berkesempatan berkunjung ke China. Adalah kota Xiamen, Provinsi Hokian di wilayah tenggara China. Kita bisa jangkau kota itu dari Hongkong dengan penerbangan satu setengah jam. Kota berpenduduk sekitar 3 juta itu oleh Deng Xiao Phing dijadikan salah satu zona ekonomi khusus. Xiamen adalah kota yang masuk daftar pertama dari kota-kota yang saya kunjungi.

Kota Xiamen yang terkenal bersih dan rapi

Warga China Fujian di Xiamen tampak terbuka. Sapaan saya mereka sambut dengan ramah. Mereka tinggal di kota dengan cuaca yang tidak terlalu dingin. Banyak jembatan layang panjang. Highway akses ke luar masuk kota yang mulus.

Para pengguna jalan tertib dan disiplin. Semua berada di jalur masing-masing, membuat antrian kendaraan di lampu merah yang panjang tetap terlihat rapi. Landscape kota dengan beraneka bunga di taman-taman terawat dan indah. Kesemua itu membuat kesan pertama saya masuk daratan China dengan kesan bagus.

Berikutnya saya ke Yin Chuan, Provinsi Ning Xia. Di kota yang berada di wilayah barat yang berjarak 6 jam penerbangan dari Xiamen ini saya disambut dengan hujan salju. Pesawat China Airline yang membawa saya, terpaksa membatalkan pendaratan. Terganggu salju yang turun di area run way, pilot memilih memutar arah pesawat dan transit terlebih dahulu di bandara Xi’an selama satu jam lebih.

Tiba di Yin Chuan akhirnya hampir tengah malam. Keluar bandara dinginnya minta ampun. Hujan salju saat itu belum sepenuhnya reda. Beruntung bus yang membawa saya keluar dari bandara menuju hotel cukup bagus. Heaternya dipasang di suhu 25 derajat celcius, membuat perjalanan menjadi terasa nyaman.

Kota Yin Chuan terkenal karena kedamaiannya

Dari dalam bus saya menyaksikan bendera sejumlah negara di Timur Tengah dipajang di kiri kanan jalan. Banyak hiasan berbentuk bulan sabit di pasang di tiang-tiang lampu hias kota. Rupanya baru saja Yin Chuan menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi China-Arab Tour Operators 2015.

Kota Xi’an di China Tengah, menjadi pilihan ketiga. Kota tua ini masih meninggalkan simbol-simbol kebesaran peradaban China masa lalu. Di tengah kota tua ini terdapat tembok kota, bangunan  Dinasti Ming. Ada juga Masjid besar tertua di China yang di samping dijadikan tempat ibadah kaum muslim yang umumnya dari suku Hui juga dijadikan cagar budaya. Ketua Shangxi Islamic Association, Mohammad Salih, menjelaskan perkembangan Islam di Xi’an cukup  bagus dilihat dari pendidikan dan ekonomi mereka, apalagi setelah mengalami modernisasi ekonomi yang cepat di kota ini di era Deng Xiao Phing.

Kunjungan saya berakhir di pusat pertumbuhan ekonomi khusus China yang baru, kota Shenzhen. Kota ini berada di Provinsi Guangdong sebuah provinsi yang berjarak tempuh 45 menit saja dengan ferry dari Hongkong. Naik ferry dari pelabuhan She Kou Shenzen ke Sky Pier Hongkong Airport cukup dengan ongkos 260 Yuan atau sekitar Rp 550 ribu. Ahok, Gubernur DKI disebut-sebut berasal dari provinsi yang berdekatan dengan Hongkong dan Makao ini.

Xi'an dikenal sebagai kota sejarah karena memiliki banyak peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik

Pemberi nama Shenzhen adalah Deng Xiao Phing sendiri. Sejak reformasi yang digelar Deng, kawasan ini tumbuh cepat. Penduduknya tahun 1990 hanya 875 ribu orang. Mereka miskin, dan tinggal dibukit-bukit tandus dan gersang. Kini Shenzhen berpenduduk kurang lebih 9 juta orang dengan tingkat kesejahteraan ekonomi yang tinggi dengan income percapita 13.581 USD.

Tidak salah jika ada yang bilang the Rising of China. Kebangkitan China bahkan mengejutkan Amerika yang selama ini mengendalikan sepenuhnya perkembangan ekonomi dunia. Dominasi ekonomi Amerika belakangan memperoleh saingan kuat dari negeri yang lebih suka disebut Tiongkok ini. China mengalami kebangkitan ekonomi luar biasa sejak dikendalikan oleh Deng Xiao Phing.

Pilihan Presiden Jokowi kepada China untuk mengerjakan pembangunan kereta api supercepat sudah menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat kecil di China. Seorang pedagang kaki lima di Moslem Street, di Xi’an dengan bangga menceritakan apa yang dia dengar tentang keputusan Presiden Jokowi tersebut. “Kami tidak kalah dengan Jepang dan Amerika”, ujarnya dengan bahasa Inggris berdialek mandarin.

Rupanya Deng sadar, sikap tertutup yang dipilih oleh pemimpin pendahulunya, seperti yang dilakukan oleh Ketua  Mao,  sehingga China lebih dikenal sebagai negeri tirai bambu tidak mungkin dipertahankan. China harus terbuka. Setidak-tidaknya di wilayah ekonomi. Oleh karena itu, meski tidak memilih istilah glasnost dan perestroika, Deng memilih melakukan reformasi dengan keterbukaan sebagai dasar kebijakan pertumbuhan ekonominya. Anak-anak muda China dikirim ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Sepulang belajar di luar negeri mereka diberi kesempatan luas untuk memimpin pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Shenzhen menjadi salah satu kota bisnis yang berkembang pesat

Deng memacu lima pusat pertumbuhan ekonomi khusus, Beijing, Shenzhen, Shanghai, Guangzhou dan salah satunya adalah Xiamen. Kota itu awalnya daerah terbelakang. Dengan menyediakan infrastruktur modern seperti jalan, jalur kereta api cepat, logging berteknologi tinggi, pusat perkantoran dan perbelanjaan yang terus bertambah, Xiamen berhasil diubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang strategis dan pilihan  destinasi  kunjungan wisatawan mancanegara.

Pelabuhan dan bandara Xiamen kini menjadi pintu keluar masuk dari aktifitas ekspor impor di negeri China. Sebuah laporan menyebut tahun 2008 ekspor melalui pelabuhan ini sudah mencapai USD 29,4 miliar, sedangkan total volume impor dan ekspor sebesar USD 45,4 miliar. Sementara itu kantor berita Xinhua mengutip pengumuman kantor bea cukai Xiamen, melaporkan perdagangan bilateral Fujian dengan ASEAN saja tahun 2014 berhasil membukukan angka USD 24,28 miliar, meningkat 12,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tak semua penduduk Hokian berhasil beradaptasi dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Mereka yang gagal bukan diberi bantuan tak bersyarat seperti BLT di Indonesia. Bantuan yang diberikan begitu saja, tanpa syarat kerja dan kerja, mereka pandang hanya melestarikan jiwa bergantung kepada orang lain. Mereka memilih kebijakan yang berbau kapitalistik dengan meminta yang gagal beradaptasi terhadap pertumbuhan ekonomi untuk pergi meninggalkan Hokian.

Pada umumnya, mereka yang kalah dalam pertarungan ekonomi baru itu memilih Indonesia sebagai pilihan tempat mencari masa depan. Sebagai perantau, di Indonesia mereka beretos kerja tinggi. Mereka ulet, kerja keras dan tak pelak, mereka berhasil. Alim Markus, pemilik Maspion Group yang mengajak untuk mencintai produk-produk Indonesia, adalah salah satu dari China berketurunan Hokian ini. Leluhur sejumlah taipan Indonesia seperti Liem Sioe Liong sahabat dekat Presiden Soeharto, pendiri pabrik rokok Dji Sam Soe atau Grup Sampoerna,  Liem Seng Tee dan juga pemilik Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja adalah berasal dari provinsi ini.

Shenzen, sebuah kampong kecil yang sebelum dikembangkan Deng, berpenduduk 80 persen berlatar belakang petani. Hanya 20 persen saja yang bekerja di industri. Deng berhasil mengubah menjadi 80 persen penduduk bekerja di lapangan kerja industri, dan 20 persen saja yang sekarang hidup di pegunungan dan berlatar belakang mata pencaharian petani.

Setelah dijadikan kawasan ekonomi khusus, Shenzhen menjadi kota industri dan jasa, yang dijadikan markas berbagai perusahan dalam dan luar negeri yang menginvestasikan dana puluhan milyar USD hingga menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tercepat di China.

Kereta Api Cepat yang kemungkinan akan di bangun juga di Indonesia

Berkembang infrastruktur modern, lengkap dengan gedung-gedung pencakar langit. Kota ini memiliki gedung yang tingginya 350 meter, dan kini tengah menyelesaikan gedung Ping An Finance Centre yang lebih tinggi lagi, 660 meter. Mereka mencoba mengejar pencakar langit Burj Khalifa di Dubai yang memiliki ketinggian 828 meter.

“Orang tua saya memang bangga dengan Bapak Mao, tetapi saya bahagia karena Bapak Deng Xiao Phing,” tutur Che Lie Lie, seorang perempuan paruh baya yang bekerja di bidang jasa pariwisata mengungkapkan kepuasannya terhadap pemimpin negerinya dalam mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan menjadi rakyat China yang berkemakmuran dan berkemajuan (ZM/Ep)

Leave a Reply