SCG: Golput Masih Tinggi Karena Lemahnya Sosialisasi KPU

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Masih tingginya tingkat ketidakhadiran pemilih di TPS (golpu) pada Pilkada Kota Surabaya 2015 yang jauh di bawah target Komisi Pemilihan Umum (KPU), menunjukan adanya kesalahan dan rendahnya sosialisasi yang dilakukan KPU.

Hasil quick count Surabaya Consulting Group (SCG) ditemukan fakta, kehadiran pemilih mencapai 53 persen. Hal ini menurut Direktur SCG Didik Prasetiyono, disebabkan berbagai hal, diantaranya adanya apatisme politik, yakni ketidakpedulian terhadap proses pemilihan pemimpin dikarenakan tidak berhasilnya edukasi politik pada masyarakat bahwa pemilu itu penting.

“Selain itu, faktor lemahnya sosialisasi yang dilakukan KPU juga menjadi factor kuat, meningkatnya golput,” terangnya, Rabu (9/12/2015) malam.

Fakta yang disampaikan Didik diantaranya adalah minimnya baliho atau poster tentang pemilihan walikota, juga di mana baliho spanduk terlihat dipasang asal-asalan dan bila rusak tidak segera diganti. Panwaslu, sebut Didik, juga cenderung overacting dan membatasi gerak calon dan tim kampanye dalam hal sosialisasi.

“Faktor tidak validnya DPT, nampaknya juga jadi penyebab, di mana pemilih ber-KTP Surabaya yang sudah bertahun-tahun tidak tinggal di Surabaya, masih tercatat di DPT,” lanjut Didik.

Satu lagi, tambah Didik, yakni dilema hari libur bagi kaum metropolis. Kesempatan libur pilkada, terang dia, digunakan untuk meluangkan waktu guna istirahat atau santai bersama keluarga, sehingga mendorong tingginya ketidakhadiran di TPS.

Ke depan, SCG merekomendasikan agar sosialisasi yang dilakukan KPU, bisa mengombinasikan antara ide “pembatasan agar kemampuan calon setara”, dengan tetap mengakomodasi kreativitas grass root dalam membuat pilkada meriah yang ujungnya meningkatkan kehadiran pemilih.

“Edukasi atau pendidikan politik, harus dilakukan sejak usia dini, agar kesadaran bernegara terbangun,” pungkasnya. (Ep)

Leave a Reply