Sekolah Internasional harus tetap memberikan pelajaran sejarah tentang Indonesia

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Bulan Desember memang bulan yang istimewa karena bukan saja ada perayaan Natal dan Malam Tahun Baru, tetapi juga ada hari peringatan sosial yang besar yaitu hari AIDS dan Hari Ibu.

Ketua umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Surabaya, Asrilia Kurniati

Namun seiring dengan berjalannya waktu, sepertinya makna hari istimewa ini semakin berkurang, khususnya hari AIDS dan hari IBU. Bahkan peringatan hari Ibu sering kali hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal seorang Ibu (diakui atau tidak) merupakan kunci dari generasi masa depan bangsa.

Adanya sinyalemen berkurangnya makna Hari Ibu ini, di tentang oleh Ketua umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Surabaya, Asrilia Kurniati, yang berpendapat bahwa justru dikalangan organisasi-organisasi wanita seluruh Indonesia, pasti memperingati Hari Ibu, meski acara yang digelar tidak bertepatan dengan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Namun Asrilia tidak memungkiri bahwa bagi sebagian kalangan, peringatan Hari Ibu sering tidak dianggap istimewa, dan bahkan cenderung tidak dianggap.

“Bagi saya, Hari Ibu akan tidak bermakna bila kasih seorang Ibu sudah tidak dianggap atau bahkan tidak dihargai oleh putra putrinya. Namun alhamdulilah, sampai saat ini belum ada terlihat Hari Ibu tidak bermakna,” terangnya saat dihubungi kabarsurabaya.com.

Ketua umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Surabaya, Asrilia Kurniati bersama Walikota Surabaya Risma

Asrilia juga menambahkan, apabila suatu saat nanti Hari Ibu benar-benar tidak bermakna lagi, maka yang paling bertanggung jawab adalah orang tua dan lingkungan yang kurang aware tentang Hari Ibu.

Karena itu Ia menegaskan bahwa sesibuk apapun seorang Ibu di dalam pekerjaannya maupun aktivitasnya, kedekatan dan komunikasi dengan putra-putrinya menjadi hal yang mutlak tetap harus dilakukan dan dijaga.

“Kita harus tetap bisa memposisikan sebagai Ibu seseorang yang paling dekat dan paling dibutuhkan kasih sayangnya, perhatiannya dan belaiannya oleh putra putri kita. Jadi bila kita tetap lakukan itu, kita sebagai Ibu tidak akan pernah hilang dari hati putra putri kita,” lanjut Asrilia yang yang akrab disapa Leeya ini.

Lebih jauh Asrilia juga menyampaikan bahwa yang paling ditakutkan sebagai orang tua dari generasi-generasi baru kita ini adalah jika hilangnya etika dan adat ketimuran kita sebagai warga Negara Indonesia, dan rasa nasionalisme mereka sebagai warga Negara Indonesia (WNI).

Oleh karena itu Ia berharap, pemerintah juga harus memperhatikan masalah program pendidikan, khususnya pada sekolah-sekolah yang berlebel ‘sekolah internasional’ untuk tetap  memberikan pelajaran sejarah tentang Indonesia dan harus tetap bias melaksanakan kegiatan-kegiatan yang memperingati hari-hari besar sejareah Indonesia, termasuk Hari Ibu.

“Bila memang pemerintah tidak memiliki kepedulian terhadap kurikulum atau materi pendidikan di sekolah-sekolah ‘internasional’, maka kita sebagai orangt tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah internasional, harus berani memberi masukan ke sekolah-sekolah tersebut tentang sejarah dan peringatan hari besar Indonesia,” pungkasnya. (Ep)

Leave a Reply