IPNU Jatim : Valentine Day Alarm Penjajahan Ekonomi dan Moralitas

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Dalam seminggu terakhir ini, ulasan tentang Valentine Day atau hari kasih sayang tercatat mewarnai hampir semua lini media. Beragam perspektif yang melandasi kajian hingga kecaman pun silih berganti.

Bagi mereka yang pro Valentine Day berargumen sah-sah saja, karena hal itu dinilai hanya sekedar penanda moment, seperti halnya hari Ibu, hari HIV/AIDS dan peringatan yang lainnya. Sebaliknya, bagi yang kontra beranggapan momen tersebut tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan sebuah perayaan. Terlepas dari kelompok pro dan kontra, sangat menarik jika membaca fakta dibalik Valentine Day.

Haikal Atiq Zamzami, Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur mengungkapkan dalam kurun 2-3 hari menjelang Valentine Day terjadi lonjakan pembelian alat kontrasepsi yang signifikan. Mirisnya, momen ini mayoritas dirayarakan oleh generasi muda, termasuk remaja, pelajar dan mahasiswa.

“Dalam kurun 2-3 hari jelang Valentine, di beberapa daerah di tanah air terjadi lonjakan pembelian alat kotrasepsi oleh segmen remaja-mahasiswa. Hal ini menjadi indikasi ancaman serius terhadap degradasi moral generasi muda,” jelas Haikal, sapaan akrabnya, kemarin (17/2/2016).

Selain kontrasepsi, lonjakan juga terjadi terhadap tingkat pembelian cokelat. Cokelat sejak lama diidentikkan sebagai salah satu simbol penanda V-Day. Ada fakta menarik dibalik Cokelat dan V-Day ini. Pada kisaran 2004, sebuah situs berita Amerika mengangkat headline, “the Dark side of valentine day between chocolate industry and child slavery”.

“Pada intinya, dibalik melonjaknya permintaan Cokelat saat V-Day, ada cerita tragis perbudakan anak-anak di Aferika Barat, di Pantai Gading. Karena 42% pasokan kokoa sebagai bahan baku cokelat dunia berasal dari sana. Ironisnya terdapat hampir 300.000 anak-anak yang dipekerjakan dengan kondisi dan upah yangbjauh dari standart,” ungkapnya.

Secuil Kisah ini menguatkan indikasi bahwa Valentine Day juga merupakan salah satu agenda penjajahan ekonomi gaya baru, dengan target menciptakan generasi konsumeris, yang berujung pada pola perbudakan oleh pemilik modal besar terhadap masyarakat ekonomi lemah.

Pihaknya menilai Valentine Day adalah sebagai alarm ancaman terhadap kemrosotan moral generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, Haikal mengungkapkan perlu adanya wadah pembelajaran di luar kelas yang mampu memfasilitasi proses pemahaman sejak dini, tentang tugas besar generasi muda ditengah ancaman dan tantangan perkembangan zaman.

“Jangan sampai momentum Valentine Day ini sekadar menjadi alarm tahunan yang terus berulang. Alih-alih sebagai alrm penggugah kesadaran untuk bergerak, justru akan menjadi semacam indikator kemrosotan moral tahunan,” pungkasnya. (Suta/red

Leave a Reply