Buku Without Borders : Kecelakaan dan Nyaris Meninggal, Menjadi Titik Balik Kehidupan Iwan Sunito

DENPASAR (kabarsurabaya.com) – Buku “Without Borders” yang terdiri dari 15 bab yang dibagi menjadi beberapa fase perjalanan hidup Iwan Sunito yang dimulai dari titik awal hingga detik ini, resmi diluncurkan Iwan Sunito, pemenang penghargaan Australian Property Person of The Year 2015.

Buku biografinya yang telah ditunggu-tunggu, yaitu “Without Borders”, menceritakan makna sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

Pagi itu, matahari menyapa lembut ketika Arifpin Kosasih memencet tombol telepon selulernya, mengontak sahabat lamanya, Nyohardi Purnomo. Sebuah berita dan sebuah foto telah menyentak alam bawah sadarnya. Dan dia tahu kepada siapa harus mengonfirmasi kebenaran berita yang tengah dibacanya.

Iwan Sunito Menginspirasi Lewat Buku Without Borders

“Nyo, coba kamu lihat berita hari ini,”  katanya singkat sambil menyebut halaman berita tentang peresmian sebuah proyek properti di Australia.

Tanpa banyak diskusi panjang, telepon pun segera ditutup. Tak berapa lama, giliran Nyo yang menghubungi balik sang penelpon. “Pin, ini bukannya Cen Huan, teman kita?” cetusnya dengan nafas setengah memburu.

“Nah, itu dia,” jawab Arifpin sambil menghela napas. “Kalau wajahnya sih Cen Huan. Lihat matanya, senyumnya,…juga kurusnya,” dia menyambung. Berita di Koran itu dibacanya beberapa kali, sementara fotonya ditatap lekat-lekat.

“Iya, ya. Wah, kok bisa dengan Perdana Menteri Australia, ya….” Nyo berkata sambil berdecak. Mereka diam sejenak

Ini adalah sebuah potongan cerita yang diambil dari Buku Without Borders; Perjalanan Anak Hutan Kalimantan Menjadi Raja Properti Australia.

Sepintas cerita ini menggambarkan sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

Dan Without Borders memang menceritakan perjuangan hidup seorang anak manusia yang berawal dari keterpurukan yang kemudian menjelma menjadi salah satu sosok yang disegani di industry properti Negara Kangguru.

Buku ini merupakan hasil perjalanan selama kurang lebih 3 tahun (2014-2016), mulai dari wawancara, riset, hingga penulisan.

Dari rancangan awal kisah yang akan ditulis, sesi wawancara dengan banyak nara sumber di sejumlah tempat, mulai dari Jakarta, Surabaya, Pangkalan Bun, hingga di Sydney, riset-riset sekunder, hingga penentuan judul serta gambar muka, semuanya dilakukan secara mendetil melalui sesi diskusi yang intens dan berulang-ulang.

“Banyak hal yang sudah terlupakan namun akhirnya hidup kembali dari tulisan salah satu sahabat saya, Teguh S. Pambudi yang bahkan saya menyebutnya sebagai kamus berjalan untuk hidup saya,” ungkap Iwan Sunito

Ia juga menyampaikan bahwa membaca buku ini, seperti mengalami sebuah flash back di layar lebar atas semua peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Dan Denpasar, Bali sebagai lokasi historis setelah mengalami kecelakaan dan nyaris meninggal, menjadi titik balik dalam kehidupan Iwan.

“Ini pula sebabnya mengapa saya memilih Bali sebagai lokasi peluncuran buku Without Borders,” kata Iwan Sunito.

Iwan juga bersyukur bahwa pada akhirnya bisa mewujudkan salah satu mimpinya untuk bisa berbagi kisah hidupnya melalui buku Without Borders untuk bangsa dan tanah kelahirannya Indonesia.

“Hal ini tidak akan mungkin bisa terwujud tanpa kehadiran sosok Pak Wandi S. Brata yang sejak awal meyakinkan saya untuk meluncurkan buku ini” tambah Iwan.

Sementara Teguh Sri Pambudi selaku penulis menilai, Iwan Sunito adalah bukti bahwa paduan ketajaman intuitif, keluasan imajinasi dan kegigihan dalam roda kehidupan adalah sebuah formula yang tepat dalam mencapai sebuah tujuan.

“Buku ini pada akhirnya menjadi kompas baru bagi saya untuk memahami makna dari kehidupan itu sendiri dan mendorong pemahaman bahwa kehidupan bukanlah sekadar kehidupan, namun bagian dari sesuatu yang lebih luas,” ungkapTeguh.

Buku Without Borders akan tersedia di semua gerai buku terkemuka di Indonesia mulai bulan Desember 2016 dan juga tersedia secara daring di Scoop dan Amazon. (edmen)

Leave a Reply