Beratnya Membuat Rupiah Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

“Maaf, uang dolar anda agak lusuh dan terlipat. Jadi kami tidak bisa menerimanya”

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Sepenggal percakapan yang muncul di tempat penukaran uang diatas memperlihatkan betapa hebatnya mata uang asing (khususnya dolar), sehingga kondisi yang tidak sempurna meskipun hanya sedikit, membuatnya tidak akan diterima.

Lalu bagaimana dengan nasib uang Rupiah kita ? Ternyata nasibnya jauh lebih buruk. Bahkan uang Rupiah tidak mampu menjadi ‘tuan rumah di negeri sendiri’.

Fakta membuktikan bahwa uang Rupiah yang beredar, 70 % dalam kondisi yang memprihatinkan. Bukan saja hanya terlipat, tetapi banyak yang kondisinya lusuh, sobek, penuh dengan bekas steples, tambalan, maupun menjadi notes berjalan karena menjadi kertas catatan (uang Rupiah banyak yang dicoret-coret maupun penuh catatan dan bahkan gambar).

Lalu, siapa yang bertanggung jawab terhadap kondisi ini ? Apakah bisa kita hanya menyalahkan masyarakat yang tidak mampu menghargai dan merawat Rupiah kita ? Bagaimana peran dunia perbankan kita ? Apa mereka juga ikut andil menjadikan kondisi seperti ini ? Atau bahkan otoritas keuangan kita seperti Bank Indonesia juga sudah maksimal dalam menjaga kondisi Rupiah ?

Menurut salah satu sosiolog (yang cukup tidak mau disebutkan namanya), masyaakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam hal ini. Kenapa demikian ? Karena masyarakat hanya melihat uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, tidak lebih dari itu. Dan selama masih bisa dipakai untuk membeli, masyarakat tidak peduli bagaimana kondisi Rupiah itu sendiri.

“Sebenarnya masyarakat kita tidak sulit diatur. Ini terbukti dari ketika peraturan yang dibuat memiliki sangsi yang jelas dan dilaksanakan, maka masyarakat akan mengikutinya dan tidak berani melanggarnya karena ada ancaman,” terangnya.

Artinya, ketika ada sangsi bahwa uang Rupiah yang dimiliki dalam kondisi lusuh atau rusak, maka otomatis tidak bisa diterima sebagai alat pembayaran yang sah, maka otomatis pula masyarakat akan menjaga Rupiah agar tetap terlihat bagus.

“Dan merekapun tidak akan mau diberi uang Rupiah yang rusak, lusuh ataupun sobek, karena takut tidak bisa dibelanjakan lagi,” tambahnya.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT, Naek Tigor Sinaga bersama Direktur Pemasaran Bank NTT, Eduardus Bria pada acara launching mobil kas keliling di Kantor Bank NTT Cabang Atambua beberapa bulan lalu

Hal lain yang membuat uang Rupiah tidak mendapat perhatian serius juga disebabkan tidak pernah adanya upaya, baik dari otoritas moneter dan bahkan pemerintah, yang menyadarkan masyarakat bahwa mata uang sebuah Negara juga menjadi salah satu legitimasi dan harga diri sebuah bangsa, seperti layaknya bendera Negara, lagu kebangsaan, maupun lambang-lambang negara yang lain.

Kesadaran untuk menghargai uang Rupiah sebagai salah satu lambang atau identitas Negara, niscaya akan membuat cara pandang masyarakat terhadap Rupiah juga akan berubah.

Peran Dunia Perbankan

Lalu dari sisi dunia perbankan, apakah mereka tidak memiliki andil dalam menyebabkan Rupiah tidak mampu dihargai dan dijaga ?

Ternyata, dunia perbankan juga memiliki andil besar dalam membuat Rupiah tidak mendapat perhatian masyarakat. Ini bisa dilihat dari kondisi uang yang ada di anjungan tunai mandiri (ATM) yang banyak juga kondisinya memprihatinkan. Mestinya mereka (perbankan, red) bisa melakukan yang lebih baik dengan mengisi ATM yang dimilikinya dengan uang Rupiah ‘baru’ atau yang masih dalam kondisi baik.

Padahal di satu sisi, Bank Indonesia (BI) telah memberikan kemudahan pada dunia perbankan untuk menukarkan uang lusuh mereka ke BI untuk mendapatkan uang baru, Bahkan untuk mempermudah dunia perbankan, BI telah membangun beberapa “Kas Titipan” yang bertujuan memperpendek jalur distribusi penukaran uang baru oleh perbankan.

Namun faktanya, masih cukup banyak pebankan yang kurang care terhadap kondisi uang Rupiah yang diterimanya, karena mereka juga hanya berfikir uang Rupiah hanya sebagai alat pembayaran yang sah, dan belum sampai berfikir sebagai identitas negara.

Beratnya Membuat Rupiah Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Peran Bank Indonesia

Lalu bagaimana pula peran Bank Indonesia dalam membuat Rupiah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan dihargai masyarakat ?

Cukup banyak langkah yang sudah dilakukan. Bukan hanya mencoba mensosialisasikan untuk mencintai Rupiah dengan merawat Rupiah dan lebih menghargai Rupiah.

Bahkan juga mempermudah langkah penukaran uang lusuh dengan uang baru, baik melalui kas keliling BI, ataupun dengan memperbanyak “Kas Titipan” untuk memperpendek jalur penukaran uang “baru” bagi dunia perbankan,.

Bahkan untuk mengangkat kecintaan dan martabat Rupiah, pada tanggal 1 Juni 2015, bank sentral menyebarkan Surat Edaran BI (SEBI) Nomor 17/11/DKSP tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi berdasar Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah sehingga wajib digunakan dalam kegiatan perekonomian di wilayah NKRI.

Ketentuan mengenai kewajiban penggunaan Rupiah tersebut kembali dipertegas melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/3/PBI/2015 dan Surat Edaran (SE) No.17/11/DKSP tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Artinya, setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah di wilayah NKRI dan menolak Rupiah untuk pembayaran di wilayah NKRI akan dihukum dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

Ini semua bertujuan untuk memperkuat “nilai” dan Martabat dari Rupiah, agar bukan saja menjadi alat pembayaran saja, tetapi juga agar Rupiah bisa menjadi identitas negara. Karena dengan demikian, maka cara memperlakukan Rupiah akan jauh lebih baik.

Namun faktanya, sampai saat ini Rupiah belum mampu mendapatkan penghargaan dalam kehidupan berasyarakat di Indonesia. Ini terlihat dari kondisi rupiah secara fisik yang mayoritas masih sangat memprihatinkan.

Tapi apapun langkah yang sudah dilakukan, mengajak masyarakat untuk lebih mencintai Rupiah masih lebih baik dari pada tidak melakukan apapun untuk membuat Rupiah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan di cintai serta di hargai dengan menjaganya untuk tetapi dalam kondisi baik. (edmen)

Leave a Reply