Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Tampilkan Kisah Cak Durasim untuk 300 Anak SD

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Salah satu kesenian tradisional Surabaya, Ludruk, sering disebut mati segan hidup tak mau, karena memang status dan keberadaannya yang muai pudar. Tapi apa benar Luduk mulaii ditinggalkan ?

Ternyata menurut Meimura, sekretaris Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, hal itu tidak sepenuhnya benar karena faktanya regenerasi para pelaku Ludruk masih berjalan dengan baik.

“Kita punya beberapa anak-anak yang sudah mulai mhir memainkan kesenian Ludruk, seperti Panji yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP, Gibran yang murid kelas 4 SD, maupun ada yang masih TK. Tapi meeka sudah mampu mengimbangi para seniornya.

Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Tampilkan Kisah Cak Durasim untuk 300 Anak SD

Bahkan pada tanggal 14 Desember besok, sekitar 300 murid dari SDN Kedungdoro, SDN Pakis 3, dan SDN Gunung Anyar Tambak, dijadwalkan akan menyaksikan pentas ludruk berjudul Cak Durasim Sang Pahlawan, di gedung kesenian THR Surabaya.

“Kita mendapat kesempatan dan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui programnya Nonton Bareng Kesenian Rakyat, dengan mendatangkan sekitar 300 murid Sekolah Dasar (SD) untuk menyaksikan pertunjukan Ludruk,” terang Meimura pada kabarsurabaya.com di gedung kesenian THR Surabaya, Senin (11/12/2017).

Dalam konteks ini, Kemendikbud akan memborong semua tiket masuk untuk anak-anak ini sekaligus menyediakan bus buat angkutannya sampai ke lokasi THR.

Langkah Kemendikbud ini menurut Meimura jika ditindaklanjuti oleh Pemkot Surabaya dan ditiru, maka kesenian Ludruk sudah pasti tidak akan mati.

“Jika Pemkot mau menghadirkan anak-anak SD se-Kota Surabaya tentu keren dan luar biasa. Aktivitas kesenian di kota ini pasti kembali bergairah,” harap Meimura.

Disinggung tentang kondisi gedung pertunjukan ludruk yang cukup memprihatinkan, Meimura menjelaskan bahwa walikota sudah memberikann signal akan melakukan perubahan.

“Bahkan mungkin kita akan pindah di gedung Hi-Tech Mall yang kontraknya sudah akan berakhir,” tambahnya.

Pernyataan Meimura ternyata memang benar. Hal ini terlihat dari pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Widodo Suryantoro, yang mengatakan bahwa Hi-Tech Mall memang akan dirubah fungsinya menjadi pusat kesenian Surabaya.

“Rencananya Disbudpar akan memusatkan gedung kesenian di Hi Tech Mall yang terletak di jalan Kusuma Bangsa karena  kontrak pemilik stand akan habis dalam waktu dekat,” terang Widodo.

Widodo juga menambahkan, gedung kesenian yang mulai digarap tahun 2018 itu akan ditampilkan secara modern mulai dari, fasilitas gedung, kolaborasi beberapa alat musik lawas, pertunjukan ludruk, wayang dan pantonim.

“Semua akan diramu dengan konsep teknologi modern, namun tetap tidak meninggalkan budaya lama,” tambahnya. (men)

Leave a Reply