Terdakwa Penggelapan Senilai Rp. 1,3 Miliar Terus Mengelak Dan Membantah Kesaksian Para Saksi

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Sidang lanjutan dugaan tindak pidana penggelapan yang menjadikan Cindro Pujiono Po sebagai terdakwa, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Setelah sebelumnya sempat ditunda karena masalah waktu,

Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada persidangan kali ini, masih tetap menghadirkan dua saksi yang sama saat pemeriksaan sebelumnya, yaitu Adam Malik selaku Direktur Keuangan PT. Trinisyah Gemilang Perkasa (TGP) dan Yongki Hermawan yang menjabat sebagai Direktur Utama PT. TGP.

Dua orang yang dihadirkan JPU kali ini, ternyata tidak juga menggoyahkan terdakwa Cindro Pujiono Po. Sejumlah alat bukti yang dibawa saksi Adam Malik dan Yongki Hermawan, termasuk bukti pembayaran yang ada di PT. TGP, tidak diakui terdakwa Cindro Pujiono Po. Pemilik Toko Juwita ini, bahkan secara tegas membantah kesaksian Adam Malik dan Yongki Hermawan terkait tentang masalah pembayaran.

Terdakwa Penggelapan Senilai Rp. 1,3 Miliar Terus Mengelak Dan Membantah Kesaksian Para Saksi

Tim penasehat hukum terdakwa Cindro Pujiono Po juga terus berusaha untuk membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah. Apa yang dilakukan terdakwa Cindro Pujiono Po, menurut tim penasehat hukum terdakwa Cindro Pujiono Po, bukanlah sebuah tindak pidana, melainkan perdata.

Pada persidangan yang terbuka untuk umum, yang digelar di ruang sidang Sari 2, Kamis (11/1/2018) ini, saksi Adam Malik yang mendapat kesempatan pertama, langsung ditanya Sudiman Sidabuke, salah satu penasehat hukum terdakwa, tentang masalah bukti pembayaran yang pernah dibayarkan terdakwa sebesar Rp. 200 juta ke PT. TGP.

Bukan hanya masalah pembayaran sebesar Rp. 200 juta saja, penasehat hukum pemilik Toko Juwita ini juga terus menggali fakta tentang mekanisme pembayaran di PT. TGP terhadap pembeli semen Bosowa, termasuk bagaimana mekanisme pembayaran yang terjadi antara PT. TGP dengan Toko Juwita.

Terdakwa Penggelapan Senilai Rp. 1,3 Miliar

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Rohmat ini, Sudiman mengatakan, selama ini Toko Juwita jika melakukan pembayaran, selalu menerima bon warna merah. Kalau ditotal, jumlahnya Rp. 1,3 miliar.

Sudiman Sidabuke juga mempermasalahkan tentang bon putih yang tidak pernah diberikan, padahal terdakwa Condro Pujiono Po sendiri bersikukuh sudah melakukan pembayaran ke PT. TGP.

“Terdakwa mengatakan bahwa selama ini selalu melakukan pembayaran ke PT. TGP, namun yang ia terima hanya bon warna merah, tidak pernah menerima bon warna putih, ” ujar Sudiman di muka persidangan,

Selain itu, lanjut Sudiman, jika memang terdakwa tidak pernah bayar, mengapa PT. TGP tetap nengirimkan semen ke toko Juwita.

“Jadi Yang Mulia, sebenarnya dalam perkara ini, tidak benar jika terdakwa telah melakukan penggelapan. Yang ada adalah terdakwa ada kelebihan bayar,” ungkap Sudiman.

Namun, apa yang diungkapkan tim penasehat hukum terdakwa Cindro Pujiono Po itu langsung dibantah Yongki Hermawan, Direktur Utama PT. TGP. Yongki Hermawan yang dihadirkan di persidangan setelah Adam Malik, menceritakan banyak hal, termasuk bagaimana terdakwa Cindro berjanji akan melunasi pembayaran, hingga sikap terdakwa Cindro yang sudah menyepelekan dirinya.

Dihadapan majelis hakim, JPU, terdakwa Cindro Pujiono Po dan tim penasehat hukumnya, Yongki Hermawan menyatakan, bahwa Toko Juwita sudah molor dalam hal pembayaran pemesanan semen Bosowa.

“Setelah 5 bulan molor, saya memerintahkan ke teman-teman terutama bagian pengiriman untuk menghentikan pengiriman semen ke Toko Juwita. Bahkan, saya juga memerintahkan bagian sales untuk melakukan konfirmasi serta menanyakan mengapa ada tunggakan di PT. TGP,” tegas Yongki.

Masih menurut Yongki, dirinya pernah datang ke toko terdakwa untuk menanyakan hal ini dan mengkomunikasikan dengan terdakwa. Namun terdakwa malah mempersulit dan mengatakan bahwa Direktur PT. TGP ini tidak tahu apa-apa mengenai kasus ini.

Karena terdakwa bersikukuh tidak pernah menerima barang, Yongki mengaku pernah suatu ketika meminta ke terdakwa untuk saling mencocokkan data. Dari sana nantinya akan ketahuan, apakah Toko Juwita benar-benar sudah menerima semen dari PT. TGP atau tidak.

Di persidangan ini, Yongki juga menjelaskan tentang adanya stempel basah yang menurut saksi berasal dari toko terdakwa. Stempel basah itu tertuliskan lunas pada bon pembayaran yang ada pada terdPkwa. (men)

Baca juga : Pemilik Toko Juwita Jombang jadi Terdakwah Rugikan Distributor Semen Bosowa Rp 13 Miliar

Leave a Reply