Balet Bukan Hanya Milik Keluarga Berduit

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Tari balet biasanya diidentikkan dengan tarian kelompok the have atau orang kaya, karena dinilai membutuhkan biaya besar untuk bisa mahir menari balet.

Pernyataan ini menurut Sylvi Panggawean ST ARAD RAD (TC), pengelola Premiere School of Balet Surabaya, tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak 100 % benar.

“Pernyataan itu tidak salah, tapi juga tidak spenuhnya benar. Karena memang untuk bisa menguasai tari balet tidak bisa innstan, butuh waktu tahunan. Tentu hal ini membutuhkan biaya yang cukup banyak,” terangnya pada kabarsurabaya.com.

Beberapa performance dari siswa siswwi Premiere School of Balet Surabaya

Namun menurut Sylvi, banyak juga para penari balet yang bukan dari kalangan orang kaya. Ini ditunjukkan Sylvi melalui beberpa anak didiknya di Premiere School of Balet yang bukan dari kalangan atas.

“Cukup bayak juga kok murid saya yang dari keluarga biasa. Selama mereka benar-benar serius mau belajar balet, beberapa malah saya bebaskan dari biaya kursus. Ya semacam beasiswa,” tambah wanita yang mulai kecil sudah menekuni balet karena mencontoh orang tuanya.

Sylvi juga menambahkan bahwa dia memiliki obsesi bisa memunculkan beberapa pebalet handal dari keluarga biasa yang kursus di Premiere School of Balet miliknya. Karena menurutnya itu akan menjadi kebanggaan tersendiri.

Sylvi Panggawean ST ARAD RAD (TC), pengelola Premiere School of Balet Surabaya

“Kalau ballerina (sebutan untuk penari balet, red) sukses karena dia dari keluarga kaya itu biasa, sebab mereka memiliki dana untuk berlatih dan bahkan mengikuti pertandingan maupun tournament balet, termasuk keluar negeri. Tapi bila ada ballerina anak orang kebanyakan terus sukses, itu baru luar biasa,” tegas Sylvi.

Sylvi mengakui bahwa tari balet memang bukan tarian mudah, melainkan salah satu tarian yang butuh waktu lama. Ibaratnya seperti sekolah, ada SD, SMP, SMA. Jadi tidak bisa belajar balet dengan system instan. Ini berbeda dengan tarian kontemporer atau hip hop yang bisa dipelari hanya dalam waktu hitungan bulan.

“Balet itu complicated. Mulai dari tehnik, posisi badan, kelenturan dan kekuatan tubuh, itu semua di pelajari dan harus presisi. Ini pula yang membuat siapapun yang ingin belajar balet tapi tidak memiliki keuletan, pasti akan gagal,” terang Sylvi.

Lebih jauh Sylvi juga menjelaskan bahwa untuk memberikan kesempatan pada para anak didiknya untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini, maka secara periodik Premiere School of Balet yang kini sudah berusia 16 tahun, selalu membuat pagelaran balet.

“Bulan Febuari ini kita kembali akan melakukan pementasan balet yang ke 10. Kali ini kita akan menampilkan tema “The White Haired Girl” yang menceritakan tentang salah satu tokoh wanita di China pada masa lampau yang dianggap sebagai tokoh yang berani melawan penindasan oleh para penguasa dan orang-orang kaya,” pungkas Sylvi.

Gelaran balet “The White Haired Girl ini akan dipentaskan oleh sekitar 50-an ballerina dari Premiere School of Balet Surabaya, pada hari Sabtu 24 Februari 2018 di Ciputra Hall Surabaya   mulai pukul 7 malam. (men)

Leave a Reply