Kapolrestabes Surabaya Ajak Civitas UK Petra Perangi Hoax

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Banyak kemudahan dan kebaikan yang sudah dirasakan dengan hadirnya berbagai media sosial dan juga gadget sebagaibagian dari kemajuan teknologi informasi, yang membuat laju pertukaran informasi menjadi sangat cepat.

Namun di balik kebaikan tersebut, terdapat juga sisi negatifnya, percepatan informasi ini meningkat bersamaan dengan banyaknya informasi palsu atau berita bohong yang kita kenal dengan hoax.

Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam peran-sertanya memerangi hoax, menggelar seminar anti hoax dengan tema “Hoaxbuster: Cerdas Mengelola dan Meneruskan Informasi”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Mata Kuliah Umum UK Petra ini, menghadirkan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, S.H., M.H. sebagai pembicara utama.

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan UK Petra saat memberikan memberikan piagam pada Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, S.H., M.H

Dalam materi yang bertajuk “Bersama Mahasiswa Melawan Hoax” ini, Kapolrestabes menjelaskan bahwa menurutnya, hoax adalah segala informasi yang tidak sesuai dengan aslinya. Ia kemudian menggambarkan bagaimana hoax menjadi viral dengan ilustrasi jika seseorang memiliki 11 ribu pengikut di media sosial, dan orang tersebut memasang suatu hoax. Lalu hoax ini kemudian di-share oleh pengikutnya yang juga memiliki ribuan pengikut. Maka dalam waktu singkat bisa dipastikan sejumlah besar pengguna internet sudah terpapar dengan informasi salah tersebut, situasi ini yang disebut dengan istilah viral.

“Pemerintah sudah mengantisipasi hoax melalui perangkat perundangan. Kepolisian juga sudah melakukan tindakan terkait hoax, yaitu: preemtif, preventif, dan penegakan hokum,” terang Rudi, yang didengarkan sekitar 210 peserta.

Dalam kesempatan itu, Rudi menyarankan kepada para pengguna internet untuk menjadi netizen yang cerdas dan bijak. Ia mengingatkan bahwa kepolisian saat ini sudah memiliki cyber patrol yang bekerja 24 jam setiap hari dan juga bekerjasama dengan para ahli.

“Pelanggar hukum di dunia cyber pasti tertangkap. Sekarang bukan lagi mulutmu harimaumu, tapi jempolmu harimaumu”, lanjutnya.

Dn sebagai penutup sesi ini, segenap peserta seminar melakukan deklarasi anti hoax serta penandatanganan ikrar melawan hoax di lembar Wall of Hopes.

Seusai sesi Kapolres, seminar dilanjutkan dengan sesi seminar bertajuk “Let’s Turn Back Hoax” yang diasuh oleh Rovien Aryunia, M.PPO., M.M., Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Wilayah Surabaya. Disini Rovien menjelaskan bahwa hoax meningkat di Indonesia karena rendahnya literasi digital pengguna internet di Indonesia.

“Jadi kenalilah cirri-ciri hoax, seperti berita yang mengajak pembacanya membenci, fitnah/rekayasa yang memakai gambar yang tidak berkaitan dengan informasi yang disebarkan, dan menggunakan media abal-abal (yang tidak bertanggungjawab),” terangnya.

Sementara di sesi terakhir seminar ini, menghadirkan Pdt. Wahyu Pramudya, M.Th., Pendeta GKI Ngagel, yang menuturkan tentang “Hoax dan Umat Beragama”.

Menurut Wahyu, semakin user friendly sebuah teknologi, semakin besar partisipasi tiap orang dalam pembuatan & penyebaran berita. Hal ini menyebabkan semakin besar pula dampaknya, baik itu positif atau negatif. (men)

Leave a Reply