Korban Sipoa Dukung Polda dan Akan Tuntut Pengacara yang Mengaku Kuasa Hukum Sipoa Group

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Paguyuban Pembeli Proyek Sipoa (P2S) selain menyampaikan apresiasinya terhadap Polda Jatim yang serius menangani kasus penipuan ini, juga meminta Polda Jatim terus mengusut kasus ini hingga tuntas.

Hal ini disampaikan kuasa hukum Paguyuban P2S, Dian Purnama Anugerah, yang menyampaikan bahwa penyidik Ditreskrimum Polda Jatim sudah cukup baik menangani kasus ini.

“Yang terbaru ada empat tersangka lagi dalam kasus ini sehingga sudah ada enam orang. Dan kami terus mendorong pihak polisi untuk mengungkap kasus ini supaya terang benderang. Siapa orang di balik ini,” terang Dian kepada media di Surabaya, Rabu (23/5/2018).

Korban Sipoa Dukung Polda dan Akan Tuntut Pengacara yang Mengaku Kuasa Hukum Sipoa Group

Korban Sipoa

Pengacara dari Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) Unair ini juga menegaskan bahwa langkah hukum yang dilakukan P2S ini murni dari para anggota paguyuban yang anggotanya 473 orang.

“Kalau ada yang mengatakan di balik P2S dan korban pembeli apartemen Sipoa ini ada main dengan Kapolda Jatim (Irjen Pol Machfud Arifin) dan mafia tanah Surabaya, itu sama sekali tak benar,” tegas Dian.

Karena itu, Dian mengatakan akan melakukan tindakan hukum terkait pernyataan pengacara Edi Dwi Martono yang mengaku kuasa hukum Sipoa Group, ketika memberikan statmen ke media di Jakarta, bahwa upaya P2S menuntut tanggung jawab Sipoa Group sebagai aksi yang digerakan oleh kelompok mafia tanah yang dekat dengan Kapolda.

“Pernyataan itu sama sekali tidak benar. Kami akan mengambil langkah hukum jika tak ada klarifikasi terkait pernyataan tersebut,” tegas Dian.

Sementara itu, Ketua P2S, Antonius Joko Mulyono menambahkan bahwa ada 473 anggota paguyuban yang tertipu. Dan dari jumlah tersebut, baru 14 orang yang menerima pengembalian uang dari Sipoa Group, sementara yang lainnya mendapat cek kosong.

“Sebenarnya permintaan kita simple saja, karena para anggota P2S menginginkan Sipoa Group mengembalikan uang kita,” terangnya.

Antonius juga menyampaikan bahwa ada sekitar Rp 50 miliar uang dari anggota P2S yang sudah disetor ke Sipoa.

“Ini belum dari paguyuban pembeli lainnya, karena di luar P2S juga banyak yang jadi korban Sipoa,” pungkas Antonius.

Diketahui, kasus ini berawal dari polemik yang timbul antara pembeli proyek Sipoa group yang merasa ditipu oleh manajemen PT Sipoa, dan menuntut pengembalian uang mereka atas beberapa proyek yang ditawarkan PT Sipoa Group, yang tidak kunjung dikerjakan. Termasuk salah satunya adalah apartemen Royal Avatar World yang terletak di kawasan jalan Ahmad Yani Surabaya. (men)

Leave a Reply