Terapi Terromantis Mampu Tingkatkan Motorik Anak Penyandang Autis

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Penyandang autis, selama ini kebanyakan memiliki kekurangan dalam kemampuan motorik. Namun dengan melaksanakan program terapi motorik berwawasan lingkungan menggunakan terrarium dengan metode Leppy (Learn, Play, dan Happy), tim terdiri lima mahasiswa Universitas Airlangga sukses melatihkannya kepada anak autis dan mampu meningkatkan kemampuan memegang, menyusun, mengambil benda, dan meningkatkan konsentrasi yang lain.

”Bantuan kami dalam meningkatkan kemampuan motorik penyandang autis itu kami namankan Terromantis yaitu “Terrarium Motorik Penyandang Autis”, kata Kartika Khoirun Mutmainah, ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) Universitas Airlangga ini.

Terapi Terromantis Mampu Tingkatkan Motorik Anak Penyandang Autis

Berkat keberhasilanya itu, penelitian tim yang beranggotakan Kartika Khoirun Mutmainah (ketua) dan anggota Tiara Prastiana Putri, Eva Rosdiana Dewi, Nokky Farra Fazria, dan Brilian Ratna Wati ini berhasil lolos untuk memperoleh pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam program PKM 2018.

Ditambahkan oleh Kartika, program terapi motorik berwawasan lingkungan untuk anak penyandang autis dengan menggunakan terrarium dengan metode Leppy ini telah dipraktikkan oleh guru di Salsabila Special School (SSS) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Sasarannya untuk melatih motorik anak penyandang autis.

”Tim kami sudah melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada guru-guru di SSS agar mereka dapat melatih siswanya yang anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolahnya,” tambah Kartika.

Dijelaskan, keunggulan dari program ini adalah selain mampu untuk meningkatkan kemampuan motorik bagi anak penyandang autis, juga dapat meningkatkan wawasan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebab terrarium yang dibuat dari tumbuhan sukulen yang ditanam dalam wadah transparan ini memiliki manfaat untuk menyerap CO2 (carbon dioksida) di udara dan menghasilkan oksigen yang baik yang berguna untuk lingkungan.

Mengapa demikian? Tambah Kartika, karena sesungguhnya tanggungjawab terhadap lingkungan ini adalah kewajiban seluruh umat manusia. Hal ini juga merupakan cambuk bagi kita, sehingga bila penyandang autis mampu berkontribusi untuk lingkungannya, maka diharapkan semua orang juga dapat melakukan hal yang sama.

”Kami berharap program ini dapat menjadi variasi terapi motorik bagi anak penyandang autis yang dilaksanakan di sekolah berkebutuhan khusus yang manfaatnya dapat terus berlanjut,” imbuh Kartika Dkk berharap. (men)

Leave a Reply