Pakde Karwo Letakkan Basis Kebudayaan dan Spiritual di Jatim

PASURUAN (kabarsurabaya.com) – Kebudayaan merupakan basis yang menjadikan negara menjadi maju, kuat, dan berdaya saing. Indonesia, khususnya Jatim, selain berbasis kebudayaan juga diperkuat  nilai nilai spiritual yang ada.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo saat memberikan sambutan selamat datang pada acara pembukaan Festival Kesenian Indonesia (FKI) X di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan Kab. Pasuruan Sabtu (7/7/2018) malam.

Pakde Karwo Letakkan Basis Kebudayaan dan Spiritual di Jatim

Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim ini, juga menjelaskan bahwa menjaga kelestarian seni dan budaya serta kearifan lokal seperti penyelenggaraan FKI, turut serta memperkokoh suasana harmoni di provinsi ini. Demikian pula, pelestarian seni, budaya, dan kearifan lokal tsb juga memperkuat keguyuban, kerukunan, dan sekaligus penghargaan terhadap perbedaan.

“Lewat seni dan budaya lah suasana batin yang kotor bisa dibasuh,” ungkapnya.

Ditambahkan, basis kebudayaan dan spiritual juga ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia yang melaksanakan mudik bertemu dengan saudara di desa.

“Terdapat 20 juta orang melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman membawa nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Inilah basis kebudayaan, spiritual dengan di dalamnya terdapat nilai kultur yang baik,” imbuhnya.

Pakde Karwo Letakkan Basis Kebudayaan dan Spiritual di Jatim

Dihadapan Menristekdikti, rektor perguruan tinggi seni se Indonesia dan pegiat seni dan budaya yang hadir, Pakde Karwo menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan FKI.

Chandra Wilwatikta Warisan Leluhur

Dalam kesempatan sama, Pakde Karwo juga menjelaskan posisi Taman Candra Wilwatikta yang  berada dibawah kaki Gunung Penanggungan, dan terdapat  122 candi di area ini. Keberadaan candi ini menunjukkan adanya nilai sejarah yang diwariskan oleh para leluhur.

“Disekitar taman ini, terdapat Candi Jawi yang mempresentasikan Candi Hindu–Budha. Itulah hakekat kebudayaan dari leluhur kita,” imbuhnya.

Majapahit, tambah Pakde Karwo, telah memberikan contoh cara hidup berdampingan dalam keberagaman. Dalam buku Sutasoma yang dikarang Mpu Tantular, ditulis tentang Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa, yakni keberagaman hidup nusantara yang terdiri dari beragam suku dan agama di Indonesia, yang hidup secara rukun berdampingan.

Dalam kitab ini, lanjut Pakde Karwo, juga disebutkan bendera merah putih Indonesia, yang berasal dari kata  “gulo klopo”, yakni gula karena warna kemerah-merahannya dan kelapa yang bewarna putih. (men)

Leave a Reply