Sekolah MDC dan Benih Kasih Kedepankan Pembangunan Karakter Siswa

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Pembangunan karakter siswa merupakan salah satu point penting menjadi perhatian Yayasan Cahaya Harapan Bangsa (YCHB) yang membawahi Sekolah Masa Depan Cerah (MDC) serta PG dan TK Benih Kasih.

Hal ini diungkapkan Sindu, selaku Direktur Akademik, yang menjelsakan bahwa ada 4 point penting untuk membangun sebuah karakter atau kepribadian siswa. Diantaranya; mengalirkan karakter, membentuk atmosfer spiritual, mengembangkan life-skills, dan membangun akademik.

Sekolah MDC dan Benih Kasih Kedepankan Pembangunan Karakter Siswa

“Ciri khas inilah yang membedakan sekolah MDC dan benih kasih dengan sekolah – sekolah lain yang ada di Surabaya,” ungkapnya disela acara perubahan, Making Agents of Change di kawasan Diamond Hill DH11, Citraland Surabaya, Sabtu (6/10/2018).

Selain itu, Sindu juga menjelaskan bahwa kurikulum yang dipakai pun, adalah kurikulum Nasional yang mengacu kepada delapan standart pendidikan. Selain juga mengembangkan kurikulum yang mengangkat kearifan lokal, dimana muatan lokal ini juga menjadi ciri khas sekolah MDC dan Benih Kasih.

“Secara garis besar, ciri khas sekolah kami adalah perubahan, yang artinya bisa membawa perubahan yang positif. Karena itulah visi yang menggerakan sekolah ini adalah “Making Agents of Change”, karena kami yakin, perubahan yang terjadi di dalam, akan berdampak perubahan besar di luar nantinya,” jelas Sindu.

Meliana Buana Rim, Founder Benih Kasih (kanan) didampingi Theresia Rushardinah kepala sekolah TPA Play Group Benih kasih

Bentuk Karakter Sejak Bayi

Yang menarik, Yayasan Cahaya Harapan Bangsa melalui PG dan TK Benih Kasih, ternyata telah menerima dan memiliki tempat pengasuhan bayi “baby care”, sejak berusia 3 bulan, yang memang dikarena kedua orang tuanya bekerja.

Dikatakan Meliana Buana Rim, Founder Benih Kasih yang didampingi Theresia Rushardinah kepala sekolah TPA Play Group Benih kasih, dalam menerima bayi ini pihaknya sangat selektif karena pada prinsipnya, seharusnya bayi harus dekat dengan orang tuanya.

“Artinya, di Benih Kasih kami hanya akan menerima bayi dari pasangan muda yang sibuk bekerja dan berkarier, Jadi bukan ibu muda yang hanya tidak ingin direpoti anaknya kemudian dititipkan. Untuk yang semacam ini kami akan menolaknya,” tambah Meliana.

Selain itu, Meliana juga menjelaskan bahwa otak anak bayi itu ibarat spon yang mampu menyerap apa saja cairan gula, kopi dalam bentuk warna apa saja diserapnya.

”Karena itu kami sangat hati-hati dalam menanganinya, selain juga mulai menanamkan benih-benih positif terhadap anak bayi,” jelasnya.

Ditambahkan Theresia Rushardinah, karena sifatnya yang sangat membutuhkan ketelatenan dan perhatian lebih, maka pihaknya tidak bisa menampung semua bayi yang ingin dititipkan di Benih Kasih.

“Kami membatasi sesuai dengan kapasitas guru dan pengasuh kami. Dimana setiap pengasuh hanya boleh menangani maksimal 5 bayi saja,” pungkasnya. (men)

Leave a Reply