Rujukan Online BPJS Kesehatan Dipastikan akan Permudah Kebutuhan Medis Peserta JKN-KIS

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – BPJS Kesehatan memperpanjang masa ujicoba rujukan online sampai tanggal 15 Oktober 2018 mendatang. Langkah ini bertujuan untuk menyempurnakan implementasi sistem rujukan berbasis digital tersebut di fasilitas kesehatan agar manfaatnya lebih dirasakan oleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Pemberlakuan Rujukan Online yang dilakukan BPJS Kesehatan, sampai saat ini ternyata masih menyisakan banyak pertanyaan dan kekhawatiran dari masyarakat, terkait dengan prosedur pelayanan kesehatan yang di arahkan hanya pada rumah sakit (RS) kelas D dan C saja, dan tidak bisa ke RS kelas B dan A.

Menyikapi hal ini, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Utama Surabaya, Mokh. Cucu Zakaria mengatakan bahwa rujukan online yang diterapkan BPJS Kesehatan, justru untuk membuat peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) bisa mendapatkan pelayanan yang tepat dan berkualitas karena sesuai dengan kompetensi yang dimiliki pemberi pelayanan kesehatan.

Rujukan Online BPJS Kesehatan Dipastikan akan Permudah Kebutuhan Medis Peserta JKN-KIS

“Pada dasarnya sistem rujukan BPJS Kesehatan tidak berubah. Dan sistem rujukan online sama sekali tak mengurangi manfaat yang diterima oleh peserta JKN-KIS,” terangnya pada kabarsurabaya.com di kantor BPJS Kesehatan Cabang Utama Surabaya, Kamis (11/10/2018).

Cucu juga menambahkan, memang dengan sistem rujukan online, peserta JKN-KIS tidak bisa lagi untuk di rujuk ke RS kelas B atau A, selama kebutuhan medis peserta JKN-KIS masih bisa dilayani dan tersedia di RS kelas D dan C.

“Artinya, selama RS kelan D dan C masih sanggup dan memiliki dokter maupun dokter spesialis yang sesuai dengan kebutuhan medis peserta JKN-KIS, maka tidak bisa dirujuk ke RS kelas B atau kelas A,” tambahnya.

Meski demikian, masih menurut Cucu, sistem rujukan online ini tidak kaku sekali. Misalnya ada peserta yang membutuhkan pelayanan medis pada kasus-kasus tertentu yang kompetensinya hanya dimiliki oleh RS kelas B, maka bisa langsung dirujuk dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ke RS kelas B.

“Selain itu, bila memang semua RS kelas D dan C yang sesuai dengan kebutuhan medis sudah mencapai 80% kapasitasnya untuk peserta JKN, maka otomatis rujukan akan memunculkan RS kelas B yang bisa di datangi peserta JKN-KIS. Tetapi ini baru akan muncul, bila memang RS kelas D dan C yang sesuai kebutuhan medis peserta bebanr-benar penuh,” tambah Cucu.

Karena itu, mapping FKTP ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) sangat penting, untuk dapat membantu mendapatkan kepastian waktu pelayanan dengan kompetensi dan jarak terdekat.

Bukan hanya itu saja, karena dengan ini bisa meminimalisir adanya rujukan berulang kepada peserta dengan alasan tidak adanya kompetensi yang dibutuhkan.

“Selain itu, sistem rujukan online juga dapat mengurai antrean yang menumpuk pada fasilitas kesehatan penerima rujukan, dengan memberikan beberapa opsi tujuan kepada peserta, dimana sistem sudah membaca layanan di FKRTL,” terang Cucu.

Cucu juga menjelaskan bahwa untuk untuk pelayanan di RS kelas A, di khususkan untuk pasien JKN-KIS dengan kasus-kasus rujukan dengan kondisi khusus antara lain gagal ginjal (hemodialisa), hemofilia, thalassemia, kemoterapi, radioterapi, jiwa, kusta, TB-MDR, dan HIV-ODHA, maupun yang memiliki riwayat 3 bulan sebelumnya, dapat dilayani langsung di RS kelas A.

Menyadari masih banyaknya informasi yang salah pada masyarakat soal rujukan online, maka BPJS Kesehatan akan terus mengintensifkan sosialisasi melalui berbagai kanal informasi dan juga berupaya meningkatkan pemahaman baik kepada stakeholder, peserta JKN-KIS, dan fasilitas kesehatan mitra.

Sampai dengan 28 September 2018, terdapat 202.329.745 jiwa penduduk Indonesia yang telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS. Untuk memberikan layanan kepada para peserta JKN-KIS tersebut, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 22.634 FKTP, 2.441 rumah sakit (termasuk di dalamnya klinik utama), 1.551 apotek, dan 1.093 optik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. (men)

Leave a Reply