Unesa Kembali Pecahkan Rekor MURI dengan Menyanyikan Lagu Nasional dengan Bahasa Isyarat

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Dalam merayakan dies natalis ke-54 tahun 2018 ini, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menampilkan acara yang berbeda, karena ada sebanyak 1964 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan dan komunitas disabilitas yang menyanyikan lagu dengan menggunakan bahasa isyarat.

Kegiatan menyayikan lagu dengan bahasa isyarat yang digelar di halaman Gedung Rektorat Unesa, Rabu (19/12/2018) ini, bahkan berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI.

Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes, mengatakan bahwa pemecahan rekor MURI ini menjadi yang ketiga kalinya bagi Unesa, dan rekor ke 8.790 untuk keseluruhan rekor MURI.

Unesa Kembali Pecahkan Rekor MURI dengan Menyanyikan Lagu Nasional dengan Bahasa Isyarat

“Kami memilih jumlah 1964 orang untuk memecahkan rekor MURI ini, karena memang 1964 itu adalah tahun kelahiran Unesa. Jadi angka ini punya makna sejarah bagi Unesa,” tambahnya.

Dan terkait dengan bahasa isyarat yang diidentikan dengan para penyandang disable, Prof. Nurhasan menjelaskan bahwa  Unesa sangat peduli dengan para penyandang disabel, dan akan terus menggalakkan kampus ramah disabilitas baik dari segi pelayanan maupun sarana prasarana.

“Karena itu kami sedang membangun dan memperbaiki semua sarana dan prasarana di kampus ini agar mudah dipergunakan oleh para penyandang disable,” tambahnya.

Unesa Kembali Pecahkan Rekor MURI, Kali ini dengan Menyanyikan Lagu Nasional dengan Bahasa Isyarat

Bagi Prof. Nurhasan, mahasiswa berkebutuhan khusus atau disable, adalah mahasiswa yang juga memiliki banyak potensi, memiliki kelebihan, dan bisa berprestasi sehingga kampus harus memberikan support maksimal.

“Kami juga berharap, kesuksesan Unesa dalam rekor Muri kali ini, mampu menunjukkan ke masyarakat umum bahwa mereka yang masuk dalam kategori mahasiswa berkebutuhan khusus, wajib memperoleh pendidikan yang sama dengan orang lainnya tanpa adanya diskriminasi,” tambah Rektor yang baru dilantik Agustus 2018 lalu.

Sementara ketua Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD), Budiyanto menambahkan, untuk memecahkan rekor MURI ini, para relawan ini telah berlatih bahasa isyarat mulai Agustus lalu.

“Ini dilakukan para relawan sama sekali tidak ada tekanan dari pihak manapun. Namun sepenuhnya karena mereka peduli pada temen-temannya yang disable,” terangnya. (men)

Leave a Reply