Unair Kembali Kukuhkan 3 Guru Besar Baru

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Universitas Airlangga kembali mengukuhkan tiga guru besar baru. Kegiatan pengukuhan guru besar baru tersebut dilangsungkan di Aula Garuda Mukti pada Sabtu (26/1/2019).

Ketiga guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Tanti Handriana, S.E., M.Si., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof. Dr. Hening Laswati, dr., Sp.KFR(K) dari Fakultas Kedokteran (FK), dan Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K), FINSDV. dari FK. Ketiganya menjadi Guru Besar Unair yang aktif ke 184, 185 dan 186.

Tercatat dari pengukuhan guru besar baru tersebut sampai dengan 26 januari 2019, Universitas Airlangga telah memiliki guru besar aktif sebanyak 190 orang. Sementara sejak berdiri tahun 1954, Universitas Airlangga telah melahirkan guru besar sebanyak 478 orang.

Unair Kembali Kukuhkan 3 Guru Besar Baru

Prof. Dr. Tanti Handriana, S.E., M.Si., dalam orasi ilmiah dengan judul “Green Marketing dan Green Buying Behavior untuk Menyelamatkan Bumi dan Isinya” menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup di bumi, menuntut peran dari berbagai pihak seperti para pelaku bisnis, konsumen, dan pemerintah.

“Para pelaku bisnis dituntut untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan, sesuai dengan kaidah yang ada dalam green marketing, yaitu merancang, menentukan harga, mendistribusikan dan mempromosikan produk dengan cara memperhatikan pada perlindungan lingkungan,” terangnya.

Selain itu, tambahnya, sebagai konsumen, kita perlu berperilaku “hijau” (green buying behavior), yakni berperilaku untuk menghindari produk yang membahayakan kesehatan konsmen atau pihak lainnya.

Sementara Prof. Dr. Hening Laswati, dr., Sp.KFR(K) dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Perkembangan Masa Depan Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi sebagai Strategi Pencegahan Disabilitas dan Membangun Kesadaran Human Right Penyandang Disabilitas” menjelaskan, bahwa masalah difabel atau penyandang disabilitas akhir-akhir ini menarik perhatian dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Organisasi dunia WHO mengestimasikan lebih kurang 690 juta atau 15% penduduk di Asia-Pasifik mengalami disabilitas dan menghadapi barrier atau halangan untuk berpartisipasi di lingkungan sosialnya. Sementara di Indonesia, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dengan berbasis modul International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF) pada tahun 2015 mencapai 8,56% penduduk.

“Penyandang disabilitas menghadapi banyak barrier/halangan untuk dapat melakukan aktifitas sehari-hari, bekerja dan melakukan akivitas dilingkungan sosialnya. Disini tampak bahwa masalah disabilitas berdampak pada masalah sosio-ekonomi,” jelasnya.

Adapun dalam orasi ilmiah Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K), FINSDV., dengan judul “Kusta Melawan Kesejahteraan, Menantang Ilmuan (Menuju Penghentian Transmisi M.Leprae dengan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Academic Health System Melalui Penjegahan Dini Disregulasi Ilmunitas”, dijelaskan bahwa Kusta merupakan penyakit sepanjang sejarah peradaban manusia, namun sampai saat ini transmisi penyakit tersebut belum bisa dihentikan terbukti dari masih stabilnya kasus baru, kasus kusta anak, dan kasus kecacatan.

“Penyakit ini bukan hanya masalah fisik namun juga masalah sosial dan ekonomi dengan adanya lingkaran setan kecacatan stigma diskriminasi kemiskinan penderitaan dan perburukan kecacatan, bisa dikatakan kusta melawan kesejahteraan manusia,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Unair Prof. Nasih memberikan menjelaskan bahwa Guru besar merupakan sebuah amanah. Bukan sekadar gelar tertinggi dalam dunia pendidikan. Ini adalah tugas yang berat. Karena guru merupakan sebagai profesi yang harus bisa memberikan keteladanan.

“Sebagai seorang cendekiawan, guru besar harus bisa memberikan sumbangsih yang nyata dalam kehidupan manusia. Jangan menjadi menara gading yang sibuk dengan urusan sendiri. Ini sudah saatnya menjadi insan cendekia yang harus menebar manfaat ke seluruh penjuru bumi,” terang Nasih. (men)

Leave a Reply