PCS Buktikan Janjinya Duduki Kejati Selama 3 Hari

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Paguyuban Customer Sipoa (PCS) membuktikan janjinya untuk menduduki Kejaksaan Tinggi (Kejati) selama tiga hari berturut-turut mulai Selasa 19 Februari hingga Kamis 21 Februari 2019.

Setelah melakukan demo dan menduduki Kejati pada hari Selasa dan Rabu, ribuan massa PCS kembali mendatangi kantor Kejati Jawa Timur yang terakhir kali nya pada hari Kamis (21/2/2019), sekalian mengucapkan berduka cita atas meninggalnya “keadilan” di jawa timur.

Seperti juga dua hari sebelumnya, kedatangan massa PCS ini adalah untuk meminta agar Jaksa mencabut upaya hukum banding atas vonis enam bulan yang dijatuhkan pada tiga terdakwa yakni Ir. Klemens Sukarno Candra, Budi Santoso dan Aris Birawa.

PCS Buktikan Janjinya Duduki Kejati Selama 3 Hari

Dengan membawa berbagai atribut demo dan memasang karangan bunga didepan pintu masuk kejati jatim, mereka juga meneriakkan yel-yel kekesalan mereka atas apa yang dilakukan Jaksa Kejati Jatim yang menjadi Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk perkara nomor : LPB/373/III/UM/2018/Jatim tersebut.

Massa konsumen Sipoa ini, juga berusaha menarik perhatian para pengguna jalan A. Yani Surabaya dengan membagi bagikan bunga serta.

Pieter Yuwono selaku koordinator PCS mengatakan, massa memasang karangan bunga dan menaburkan bunga di depan pintu masuk, serta membagikan bunga pada pengendara jalan, dengan maksdu untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa keadilan di Jawa Timur mati total.

”Akibat ulah jaksa dengan mengajukan banding itu, keinginan kami untuk mendapatkan refund dari Sipoa jadi terbengkalai dan terancam gagal,” ujarnya.

PCS Buktikan Janjinya Duduki Kejati Selama 3 Hari

Padahal, masih menurut Pieter, pengembalian uang para nasabah ini tinggal selangkah lagi. Karena begitu semua barang bukti diterima para terdakwa, keinginan para konsumen untuk mendapatkan uangnya kembali, akan terlaksana, karena total barang bukti yang disita penyidik itu jumlahnya mencapai Rp 1,5 triliun.

“Jadi sangat cukup untuk mengembalikan semua dana nasabah,” tambah Pieter.

Yang menarik dari kasus ini, lanjut Pieter, pengajuan banding yang dilakukan jaksa itu untuk kepentingan siapa ? Sementara para korban sudah menerima putusan vonis dari pengadilan.

“Jangan hanya bicara soal standar operational procedure (SOP) saja, tetapi pikirkan masalah keadilan korban dan social justice,” pungka Pieter. (men)

Leave a Reply