Fortifikasi Garam Penting untuk Cegah Stunting dan Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Mengawali tahun 2019 pemerintah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini juga sesuai dalam tujuan pembangunan millennium (millennium development goals), melalui perbaikan kualitas nutrisi agar tumbuh kembang terjaga sejak dalam kandungan.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono menegaskan, peningkatan kualitas SDM ini, salah satunya adalah melalui fortifikasi yodium pada garam konsumsi yang beredar di Indonesia.

“Fortifikasi yodium pada garam konsumsi bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, karena Yodium merupakan unsur mineral yang menjadi nutrisi penting bagi tubuh. Yodium menjaga fungsi tiroid tetap stabil. Hormon tiroid yang baik berperan dalam mengoptimalkan fungsi otak dan system saraf,” terangnya seusai membuka acara Focus Group Discussion (FGD) Fortifikasi Garam Pangan : Harmonisasi Tujuan Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat dan debottlenecking Upaya Peningkatan Nilai Tambah Produk Pergaraman di Surabaya, Kamis (4/4/2019).

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Agung Kuswandono

Selama masa pertumbuhan sejak dari dalam kandungan, lanjut Agung, hormon tiroid membantu perkembangan janin, agar fungsi otak dan system saraf berkembang normal.

“Defisiensi (kekurangan) yodium pada ibu hamil, bila sudah parah dapat berdampak pada retardasi kesehatan dan pertumbuhan yang terhambat atau yang banyak dikenal dengan istilah stunting,” lanjut Agung.

Begitu pentingnya yodium bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong upaya pencegahan defisiensi yodium melalui fortifikasi yodium pada bahan pangan. Karena fortifikasi yodium pada garam konsumsi dapat mencegah masalah stunting (kondisi gagal tumbuh kembang pada balita) di Indonesia.

“Karena itupula, tujuan utama dari FGD ini kita arahkan pada masalah yang sangat krusial yaitu fortifikasi garam (pemberian zat yodium) agar menghindarkan dari masalah stunting,” tambahnya.

Fortifikasi Garam Penting untuk Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia

Seperti diketahui, fenomena stunting di Indonesia, sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan, karena pada tahun 2013, sebanyak 37 persen atau lebih kurang 9 juta anak Indonesia dibawah usia 5 tahun mengalami stunting.

Pemerintah Indonesia telah melakukan akselerasi demi mencegah stunting, bahkan pencegahan stunting telah menjadi komitmen nasional. Pada tahun 2018, telah terjadi penurunan stunting yakni 30.8 persen.

“Saat ini hanya ada satu provider kalium iodat (yodium) di Indonesia, yaitu PT.Kimia Farma. Karena itu yang jadi permasalahan sekarang adalah bagaimana cara memastikan distribusi yodium untuk produsen garam seluruh Indonesia. Siapa yang menangani monitoring dan evaluasi fortifikasi yodium, khususnya untuk garam rakyat produksi UMKM. Atau bagaimana pengawasan standarisasi kadar yodiumnya?,” ujar Agung.

Karena itu pula Agung menekankan poin-poin penting dalam FGD kali ini adalah fortifikasi yodium untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, mencegah dan mengeliminasi stunting, mencari solusi demi mengatasi kendala dalam fortifikasi yodium dan meningkatkan nilai tambah produk pergaraman.

“Karena itu saya mengajak semua pihak untuk mencari dan menjadi solusi. Ini adalah masalah kita semua, mari bekerja sama, mari kita satukan semua kegiatan yang ada, sehingga semuanya tahu dan mengerti. Yang paling penting tujuan utama kita adalah kesejahteraan masyarakat dan mengatasi stunting. Untuk masa depan Indonesia, masa depan kita semua,” pungkas Agung. (men)

Leave a Reply