Surabaya Heritage Track Lakukan Tur Rekreasi Kota Kolonial

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Dalam menelusui Jejak Warisan Surabaya, program Surabaya Heritage Track (SHT) yang diluncurkan di tahun 2009 dengan konsep tur keliling kota menggunakan bis bermodel kereta trem yang pernah berjalan di Surabaya tempo dulu, kembali melakukan kegiatan Rekreasi Kota Kolonial.

Dalam kegiatan yang digelar setiap Jumat sampai Minggu (7 – 30 Juni 2019) ini, Tracker (penumpang bis) dapat menikmati dan mengenal sejarah bangunan-bangunan cagar budaya, sejarah kota Surabaya yang terkenal sebagai kota pahlawan, kisah Babad Surabaya, serta kekayaan ragam budaya khas Arek yang menjadi ciri khas Surabaya.

Surabaya Heritage Track Lakukan Tur Rekreasi Kota Kolonial

Rani Anggraini, Manager House of Sampoerna selaku penyelenggara kegiatan SHT mengatakan, pada masa Kolonial, Surabaya merupakan kota yang semarak dengan ragam sarana hiburan bagi warganya. Utamanya setelah kawasan Boven stad (kota bawah) di sekitaran Ketabang, Darmo dan Gubeng, dikembangkan menjadi areal hunian bagi orang-orang Eropa.

“Surabaya menjadi meriah dengan aneka restoran, bioskop, hotel, pusat perbelanjaan dan klub dansa, bagi mereka yang ingin bersosialisasi atau sekedar melepas penat di ujung hari,” tambahnya.

Tunjungan straat yang dikenal sebagai pusat komersil kota, lanjut Rani, diwarnai deretan pertokoan seperti Whiteaway Laidlaw, Hoen Kwee Huis dan lainnya. Kawasan ini makin menarik antusiasme warga dengan adanya trem yang melintas. Sementara urusan bersantap sedap pun tidak kalah semarak. Renato Zangrandi’s Ijsplais, Grimm and Co maupun Hellendoorn, memenuhi selera para elit Eropa dengan roti, pastri, maupun Rijsttafel yang sangat populer kala itu.

Surabaya Heritage Track Lakukan Tur Rekreasi Kota Kolonial

“Melalui program tematik tur SHT Rekreasi Kota Kolonial ini, masyarakat diajak untuk menikmati dan merasakan kembali bagaimana kehidupan bangsa Eropa di Surabaya dengan melihat serta mengunjungi tempat wisata seperti kawasan Jalan Tunjungan, Balai Pemuda di Jalan Gubernur Suryo No. 15, serta Graha Es Krim Zangrandi di Jalan Yos Sudarso No. 15,” terang Rani.

Tur tematik SHT ini, masih menurut Rani, diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Sejak 2010 SHT telah menyelanggarakan 47 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya baik museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan lain sebagainya. Hal tersebut juga menginisiasi Heritage Walk dengan nama ‘Klinong-klinong ning Suroboyo’ yang menjadi pengembangan SHT dengan mengajak Trackers untuk secara langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar.  (men)

Leave a Reply