Kader JKN dan Suka Dukanya, Ini Ceritanya…

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – BPJS Kesehatan terus meningkatkan layanan pada masyarakat, khususnya peserta Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Salah satunya dengan meningkatkan peranserta Kader JKN sebagai mitra BPJS Kesehatan dalam melakukan penetrasi informasi, edukasi dan pelayanan pada masyarakat.

Diakui atau tidak, tantangan terbesar Program JKN-KIS, salah satunya adalah masalah kolektabilitas iuran peserta JKN-KIS, terutama pada segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau Peserta mandiri.

Dan disinilah peran penting Kader JKN sebagai mitra BPJS Kesehatan menjadi sangat berarti, karena bukan saja membantu BPJS Kesehatan dalam melakukan kolektifitas iuran peserta JKN-KIS, tetapi juga sekaligus sebagai corong untuk memperluas informasi dan edukasi pada masyarakat, yang memiliki beragam karakteristik.

Pertemuan mingguan Kader JKN di BPJS Kesehatan Kantor Cabang Surabaya

Namun demikian, seperti diakui Ine Aldrine selaku Kader JKN wilayah Kecamatan Wonokromo Kota Surabaya, bukan hal mudah untuk melakukan penarikan iuran maupun menyampaikan edukasi dan informasi soal BPJS Ksehatan pada masyarakat.

“Sudah sejak tahun 2017, saya bergabung bersama BPJS kesehatan Surabaya sebagai Kader JKN. Dan banyak suka dukanya menjadi kader ketika kita terjun di masyarakat. Ini karena tiap masyarakat itu karakternya berbeda-beda,” terangnya pada kabarsurabaya.com di kantor BPJS Kesehatan Surabaya.

Bahkan menurut Ine, tidak jarang ketika terjun ke masyarakat, dirinya dianggap abal-abal, ataupun disangap tukang kredit, dan anggapan-anggapap yang lainnya. Namun karena memiliki jiwa sosial yang tinggi dan ingin bermanfaat bagi sesame, Ine yang asli Wonokromo ini tidak pernah patah semangat untuk terus menjadi Kader JKN.

“Bukan hanya dianggap abal-abal atau tukang kredit, saya bahkan pernah disiram air dan bahkan diusir dengan keras. Tapi saya sabar aja. Karena itu, dalam melakukan pekerjaan saya, saya mencoba berusaha lebih menjadi teman mereka dan kita dekati dengan cara membangun persaudaraan,” tambah Ine.

Ine Aldrine, Kader JKN wilayah Kecamatan Wonokromo Kota Surabaya

Baginya, cemoohan dan cacian masyarakat, terutama mereka yang tidak mau membayar iuran BPJS Kesehatan, selalu dihadapi dengan jiwa besar, karena menurutnya ini adalah bagian dari tantangan yang harus dihadapi.

“Buat saya, semua kejadian yang gak enak ini saya anggap sebagai uji nyali saja. Yang penting, saya punya niat baik untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat,” terangnya sambil tersenyum.

Masih menurut Ine, ternyata bukan hanya persoalan cemoohan saja yang harus dialaminya. Bahkan banyak juga situasi yang sering membuat ia harus mengusap dadanya karena prihatin dengan kondisi masyarakat yang ditemunya ketika bertugas sebagai Kader JKN.

Ia mencontohkan ada keluarga yang hidupnya sangat kekurangan hanya tinggal di satu petak kamar dengan anak 6. Namun karena ingin masalah kesehatan keluarhganya bisa terpenuhi, ia menjadi peserta JKN-KIS mandiri.

“Namun dengan kondisi seperti ini, bisa dipastikan soal pembayaran iuran peserta JKN-KIS akan bermasalah. Dan ini benar terjadi,” terang Ine sambil menambahkan bahwa sekarang keluarga ini sudah menjadi peserta JKN-KIS yang ditanggung oleh Pemerintah (Penerima Bantuan Iuran-PBI).

Ada juga tipe masyarakat yang lain, lanjut Ine, yang memang kurang paham atau tidak mau tau dengan kewajibannya sebagai peserta JKN-KIS yang harus membayar iuran.

“Saya pernah menagih iuran ke peserta JKN-KIS yang lama menunggak. Tapi saya dijawab buat apa bayar, kan saya sudah sehat, begitu katanya. Kan ada SKTM ? Kenapa harus ribet bayar BPJS segala,” terang Ine.

Meski menjadi Kader JKN ternyata banyak tantangannya, namun Ine merasa enjoy-enjoy aja. Karena menurutnya, selama ini support dari BPJS Kesehatan cabang Surabaya cukup baik dan cepat merespon, bila ada kendala yang kami hadapi dilapangan.

“Justru hambatan dari pihak rumah sakit atau puskesmas yang sering terjadi. Seperti pasien yang ditolak rumah sakit. Atau pasien yang ditolak mendapat rujukan dari rumah sakit atau puskesmas. Padahal mereka peserta BPJS Kesehatan. Inipun sering mereka meminta bantuan kita sebagai Kader JKN yang dikenalnya,” terangnya.

Ine yang memegang prisip bahwa hidup ini akan lebih indah ketika terus bisa menolong sesama.ini, menyatakan bahwa ia akan terus menjadi Kader JKN, meski akhir-akhir ini ada perubahan system dalam hal renumerasi yang diterimanya.

“Dulu saya bisa dapat sampai Rp 8 juta bahkan pernah Rp 10 juta. Sekarang ya agak menurun. Ini bukan hanya karena ada perubahan system renumerasi dari BPJS Kesehatan saja, tapi juga karena banyaknya para penunggak iuran yang kemudain berpindah menjadi peserti PBI yang ditanggung Pemerintah Daerah,” jelas Ine.

Ine juga berharap, BPJS Kesehatan bisa lebih menambah jumlah Kader JKN karena ia yakin masih banyak masyarakat yang belum mengetahui banyak soal BPJS Kesehatan dan mungkin belum menjadi peserta JKN-KIS.

“Karena buat saya, program JKN-KIS ini benar-benar sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan perlindungan bagi kesehatannya,” pungkas Ine.

Sementara Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya melalui Wiedho Widiantoro, Kepala Bidang Kepesertaan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Cabang Surabaya saat dihubungi secara terpisah, mengatakan, Kader JKN memang merupakan mitra BPJS Ksesehatan, khususnya dalam menagih tunggakan iuran peserta JKN-KIS, serta menjadi ujung toimbak dalam penyampaian informasi dan edukasi pada masyarakat tentang BPJS Kesehata.

“Tugas utama Kader JKN adalah membantu menagihkan iuran serta memberikan sosialisasi pada masyarakat terkait kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional. Selain itu mereka juga bisa membantu dalam proses pendaftaran masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS,” jelasnya.

Disampaikan juga bahwa untuk jumlah Kader JKN yang menjadi mitra BPJS Kesehatan cabang Surabaya, hingga saat ini tercatat sebanyak 31 kader. Dan belum semua Kecamatan di Surabaya memiliki Kader JKN.

“Karena itu BPJS Kesehatan Surabaya akan terus melakukan penjaringan serta pengkaderan agar di semua Kecamatan memiliki Kader JKN,” pungkasnya. (men)

Leave a Reply