Pelapor Kasus Tabrak Lari Mentahkan Bantahan Terdakwa

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kelanjutan sidang kasus penganiayaan yang dilakukan terdakwa Imelda Budianto terhadap Lauw Vina alias Vivi, memasuki tahap pemeriksaan terdakwa yang dilakukan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (24/7/2019).

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Yulisar, terdakwa menerangkan bahwa dia tidak mengetahui kalau menabrak korban dengan alasan pandangannya terganggu karena saat itu sedang hujan.

Mendengar keterangan terdakwa ini, hakim kemudian menanggapinya dengan menanyakan saat itu hujan deras atau rintik-rintik. Dan oleh terdakwa dijawab hujan rintik-rintik.

Pelapor Kasus Tabrak Lari Mentahkan Bantahan Terdakwa

“Masa ga kelihatan?,” ujar hakim Yulisar.

Sementara disisi lain, terdakwa mengakui kalau dia sempat dihentikan satpam supaya menyelesaikan masalah ini. Namun terdakwa tidak berhenti dengan alasan buru-buru mengantar anaknya les.

Terdakwa juga mengkui jika dipanggil kembali oleh kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah ini, namun dia beralasan sudah ada jadwal pergi ke China untuk menjenguk kakak ibunya yang sakit.

Menanggapai keterangan terdakwa, kuasa hukum korban Andry Ermawan dan Ronald Napitupulu menyatakan bahwa Terdakwa dalam keterangannya sangat berbelit-belit. Dan ini mestinya mendapat penilaian tersendiri dari hakim sebagai hal yang memberatkan.

Sebab dari awal kesaksian korban,saksi kunci atau saksi mahkota yakni satpam Joko dan Bagus Putra Nusantara, dan diperkuat dengan sidang di tempat atau PS yang dilakukan oleh Hakim PN Surabaya.

“Jadi sangatlah jelas adanya unsur kesengajaan atau niat terdakwa untuk menabrak korban klien kami Lau Fina di area parkir Marlion school Surabaya. Dan ini didudukung juga dengan rekman CCTV yang ada,” ujar Andry, Rabu (24/7/2019).

Andry juga menambahkan, seharusnya penerapan pasal dalam kasus ini bukanlah pasal 351 KUHP jo pasal 360 KUHP melainkan pasal 338 KUHP.

Sementara Ronald Napitupulu menambahkan bahwa dari rangkaian fakta persidangan terungkap jika perkara ini bukanlah tabrakan biasa, tapi ada unsur kesengajaan dari terdakwa. Dan tentunya hal itu membahayakan nyawa korban.

“Kami juga heran sejak dakwaan jaksa dibacakan selalu disebutkan korban diserempet, namun fakta yang terungkap dari keterangan saksi kunci dan juga saat Pemeriksaan Setempat jelas ditabrak, masak sudah jelas seperti itu masih dikatakan pengniayaan ringan? Itu kan sama saja mengingkari fakta persidangan,” ujar Ronald menambahkan.

Untuk itu pihaknya berharap agar hakim membuka matanya secara jelas terhadp kasus yang menimpa kliennya agar terdakwa bisa dihukum sesuai dengan perbuatannya dengan ancaman hukuman maksimal dan begitu pula Jaksa menuntut terdakwa dengan tuntutan tinggi bukan tuntutan percobaan.

“Agar keadilan itu ada. Untung saja klien saya tidak cacat permanen dan hal itu bisa saja terjadi kalau klien saya tidak diberitahu saksi Joko kalau mendadak ada mobil terdakwa sengaja menabrak dirinya,” ujarnya. (men)

Leave a Reply