Batik Telah Mampu Ditampilkan Secara Kreatif dan Populer

Dari arena Pameran Batik Bordir & Asesoris Fair 2016 di Grand City Surabaya, yang berlangsung dari tanggal 11 – 15 Mei 2016

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kerajinan batik bordir dari Provinsi Jawa Timur saat ini bukan saja untuk kalangan orang tua, tetapi kawula muda atau anak-anak muda juga menyukainya karena warnanya ngejreng, alami, dan bagus.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, Hj Nina Kirana Soekarwo mengatakan, ini merupakan peluang pasar luar biasa yang cukup bagus karena anak-nak muda sudah mulai tertarik memakai batik bordir. Dan gelaran pameran batik bordir asesoris ini merupakan ekspresi semangat nasionalisme yang dimanifestasikan melalui kebanggaan dan kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, Hj Nina Kirana Soekarwo, saat meninjau stand di Pameran Batik Bordir & Asesoris Fair 2016 yang digelar di Grand City Surabaya 11 – 15 Mei 2016

“Ini hendaknya diwujudkan dengan membuat, membeli dan memakai produk dalam negeri. Ini akan mempunyai dampak besar terwujudnya kedaulatan ekonomi yang akan mengantarkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” terangnya dalam ceremonial pembukaan pameran Batik Bordir & Asesoris ke-11 Tahun 2016 di Grand City Surabaya, Kamis (12/5/2016).

Nina juga menambahkan, memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi tantangan sekaligus menjadi peluang perkonomian Jawa Timur, karena akan terjadi aliran bebas barang, jasa investasi dan tenaga kerja terdidik dari dan kemasing masing negara di ASEAN.

“Ini akan terjadi integrasi berupa arena perdagangan bebas, penghilangan tarif perdagangan antara negara-negara ASEAN pasar tenaga kerja dan pasar modal yang bebas yang  sangat mempernagruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di setiap negara,” lanjutnya.

Suasana di Pameran Batik Bordir & Asesoris Fair 2016, di Grand City Surabaya

Di era MEA, para pengusaha Jawa Timur harus, mengembangkan industri kreatif berbasis budaya sebagai production yang dapat menopang pasar domestik yang besar. Kesadaran masyarakat Indonesia di ASEAN masih terbatas. Maka diperlukan kerjasama yang sinergis kepada para pelaku usaha khususnya para pengajin dikranasda dengan pemerintah.

“Industri kreatif merupakan industri baru yang mengintensifkan informasi dan kreatifitas yang mengandalkan ide dan mengetahuan dari SDM sebagai faktor produksi pertama. Dari 15 pengusaha yang masuk ke dalam ekonomi kreatif, industri tekstil dan produk tekstil, batik bordir dan industri kerajinan seperti asesoris memiliki potensi luar biasa serta paling menonjol di industri kreatif yang memberiksan krotribusi 56 persen,” terang Istri Gubernur Soekarwo ini.

Lebih jauh Nina juga menjelaskan, UMKM memiliki posisi yang strategis sebagai subyek pembangunan yang melibatkan aktifitas perempuan didalamnya termasuk pengrajin batik bordir yang mayoritas adalah perempuan.

Salah satu stand di Pameran Batik Bordir & Asesoris di Grand City Surabaya

“Dalam meningkatkan daya saing pengrajin Dekranasda Jawa Timur 2016, memfokuskan program peningkatan kualitas SDM pengrajin serta peningkatan daya saingnya dengan melakukan pelatihan-pelatihan. Termasuk program peluasan jaringan pemasaran dengan mitra dagang di 26 provinsi di Indonesia.

Diketahui, Pameran Batik Bordir & Asesoris Fair 2016 yang digelar di Grand City Surabaya, berlangsung dari tanggal 11 – 15 Mei 2016 ini akan diikuti oleh sekitar 204 pengrajin batik, border dan asesoris.

“Peserta tahun ini meningkat tajam, bila dibandingkan dengan peserta event yang sama tahun lalu, yang hanya diikuti 155 pengrajin. Bahkan dari jumlah itu, 150 di antaranya merupakan UMK Mandiri,” pungkas Direktur Utama PT Debindo Mitra Tama Dadan Kushendarman, selaku penyelenggara pameran, (EP)

Leave a Reply