Ekonomi Surabaya Diyakini Stabil

SURABAYA Di tengah perlambatan kegiatan ekonomi Surabaya akibat masih lemahnya permintaan terhadap barang dan jasa. Penjualan kelompok suku cadang serta barang budaya dan rekreasi di Maret 2015 masih menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Penjualan barang budaya dan rekreasi juga diprediksi masih terus meningkat, mengingat penjualan alat tulis (sub kelompok barang budaya dan rekreasi) diyakini bertambah menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada April 2015.
“Namun, persepsi masyarakat sudah mulai menunjukkan sikap pesimis terhadap aktivitas konsumsi pada April 2015. Terlihat dari rendahnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Surabaya pada bulan berjalan,” Kata Direktur Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Syarifuddin Bassara, dalam siaran presnya, kemarin. (30/4/2015).

Meski demikian, masyarakat usia muda dan berpendidikan setingkat paska sarjana masih memperlihatkan sikap optimis terhadap kegiatan konsumsi di April 2015. Hal itu ditambah dengan ekspektasi kegiatan konsumsi pada Mei 2015 yang juga masih menunjukkan sikap optimis.

Berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE), konsumsi rumah tangga menunjukkan penurunan didorong oleh lemahnya permintaan terutama pada kelompok barang perlengkapan rumah tangga serta makanan, minuman dan tembakau.
Pelemahan permintaan terindikasi disebabkan oleh kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Di sisi lain, kenaikan harga BBM masih belum berpengaruh signifikan terhadap konsumsi BBM di masyarakat melihat penjualan BBM masih dalam batas normal dan diyakini meningkat pada April 2015 mengingat adanya perayaan Paskah (long weekend) pada bulan tersebut.

“SPE juga mencatatkan peningkatan optimisme terhadap kenaikan harga pada periode 3 bulan mendatang. Permintaan diprediksi akan meningkat cukup signifikan menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran,” ucapnya.

Di sisi lain, tekanan terhadap kenaikan harga pada 6 bulan yang akan datang diperkirakan menurun yang merupakan pola siklus ekonomi paska Lebaran, dimana tingkat harga biasanya mengalami penurunan.

Untuk ekspektasi total penjualan pada periode 3 bulan dan 6 bulan yang akan datang, diprediksi tetap akanmeningkat, walaupun pada level yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan ekspektasi terhadap kenaikan harga juga ditunjukkan pada Survei Konsumen (SK) baik pada periode 3 bulan maupun 6 bulan yang akan datang. Dari sisi konsumen, peningkatan ekspektasi harga bersumber dari efek penyesuaian harga BBM, Tarif Tenaga Listrik (TTL), elpiji dan tarif kereta api.

Faktor pendukung tekanan pada perubahan harga tersebut adalah penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang dunia dan penurunan subsidi dari pemerintah.
Selain itu, SK menunjukkan penurunan IKK ditujukkanoleh menurunnya 2 indikator pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

IEK turun didorong oleh penurunan terhadap ekspektasi kondisi ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja pada 6 bulan mendatang. Walaupun demikian, ekspektasi peningkatan penghasilan pada 6 bulan mendatang masih menunjukkan sikap optimis.

Kondisi tersebut juga tidak berbeda pada IKE, dimana indikator penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu menjadi merupakan satu-satunya indikator yang masih menunjukkan sikap optimis.

Dari sisi penggunaan penghasilan pada rumah tangga, SK menunjukkan adanya peningkatan penghasilan untuk porsikonsumsi, sedangkan porsi pembayaran cicilian utang dantabungan menurun.

“Sekalipun demikian, rata-rata pendapatanrumah tangga masih berada pada posisi aman dan masihtersisa dana untuk ditabung,” tutupnnya. (Hum/red)

Leave a Reply