Fashion Indonesia Punya Peluang Masuk Korea

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Bisnis fashion Korea, sepertinya memang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari antusiasnya para pelaku bisnis fashion yang menghadiri workshop bertema Korean Market Access Seminar for Leather and Fashon Products of Indonesia, yang digelar di Shangri-La Hotel Surabaya, Selasa (31/5/2016).

Begitu pula sebaliknya, beberapa pelaku bisnis fashion Korea yang hadir dalam kesempatan tersebut, juga mengagumi produk-produk Indonesia, salah satunya adalah tenunan dan batik.

Acara Korean Market Access Seminar for Leather and Fashon Products of Indonesia, bisa jadi peluang pengusaha fashion Indonesia masuk ke market Korea

Hal ini diakui Sekertaris Jenderal ASEAN Korea Center (AKC) Kim Young-sun, yang menggunakan produk Indonesia pada acara tersebut.

“Beberapa produk Indonesia saya suka. Salah satunya adalah baju yang saya pakai saat ini, adalah tenun Bali. Saya juga suka batik Madura,” ujarnya.

Kim Young-sun menuturkan ketertarikanya dengan produk fashion Indonesia itu tidak menutup kemungkinan juga bisa menarik kalangan masyarakat Korea. Sehingga ada peluang besar untuk Indonesia mengekspor produk-produknya ke Korea.

Meski demikian, pengusaha fashion Indonesia masih harus menyesuaikan dengan pasar Korea karena pasar Indonesia dan pasar Korea sangat berbeda.

Sekertaris Jenderal ASEAN Korea Center (AKC) Kim Young-sun (kanan) sedang berdiskusi dengan Ketua Kadin Surabaya Jamhadi di acara Korean Market Access Seminar for Leather and Fashon Products of Indonesia, yang digelar di Shangri-La Hotel Surabaya, Selasa (31/5/2016)

“Perbedaannya cukup banyak, mulai dari pemilihan warna, model, bahannya, dan masih banyak lagi yang lain. Tapi bukan tidak mungkin itu bisa dilaksanakan,” tambah Kim Young-sun.

Disisi lain, Ketua Kadin Surabaya, Jamhadi, menilai bahwa kegiatan yang merupakan kerjasama Kadin Surabaya dengan ASEAN Korea Center ini merupakan langkah untuk menciptakan peluang dan meningkatkan pasar export ke Korea, khususnya di bidang fashion.

“Karena itu pula para pengusaha yg ikut B to B (bisnis to bisnis) dengan buyers Korea ini, juga mengikuti workshop untuk mengetahui kebutuhan customer di Korea. Dan mereka juga bisa melayani kebutuhan warga Korea yg ada di Jatim yg jumlahnya lebih dari 5000 orang. Apalagi Korea masuk dalam 10 Besar FDI di Jatim,” terangnya.

Jamhadi juga menjelaskan bahwa pihaknya juga meminta pada Ambasador dan sekjen ASEAN Korea Center Kim Young-sun, untuk membawa Trainer Creative Business dan Creative Industry serta Ahli Smart City dari Korea ke Jatim, khususnya Surabaya.

“Beliau sudah menyatakan kesanggupannya, dan kita komunikasikan, setidaknya di acara PrepCom Un Habitad pada tanggal 25 Juli mendatang,” terang Jamhadi.

Diketahui, Korean Market Access Seminar for Leather and Fashon Products of Indonesia ini, dihadiri lima expert yang juga importir atau buyer dari Korea, yang dalam workshop kali ini berbagi ilmu tentang trend fashion di Korea. dan puluhan produsen fashion Jatim yang datang akan mendapatkan arahan mengenai selera pasar, tren desain, serta strategi pemasaran yang bagus terutama untuk prosedur ekspor di Negara Korea.

“Sebenarnya beberapa produk fashion Indonesia cukup menarik masyarakat Korea, salah satunya adalah batik. Namun kendalanya adalah pemakaian warna produksi pakaian Indonesia terlalu terang. Nah, mungkin setelah workshop ini, bisa membantu para pengusaha ini untuk melakukan ekspor ke Korea,” jelas Kim Young-sun.

Sementara bila melihat data perdagangan ekspor Indonesia – Korea, masih terlihat posisi defisit yang cukup besar selama ini. (EP)

Leave a Reply