Jamhadi : Brexit Akan Mempengaruhi Investasi di Jawa Timur

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Keputusan Inggris untuk ’bercerai’ dengan Uni Eropa yang popular disebut Brexit (Britain Exit), ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan di dunia. Begitu juga dengan KADIN Surabaya yang juga memiliki kepentingan dengan Inggris untuk perekonomian di wilayahnya, menganggap meski tidak terlalu besar pengaruhnya, namun tetap saja keputusan Inggris itu dapat berdampak terhadap Jawa Timur.

Menurut Ketua KADIN Surabaya, Jamhadi, bagaimanapun, Brexit juga akan mempengaruhi rencana investasi Inggris ke Jawa Timur. Padahal, Inggris adalah investor terbesar kedua di Jawa Timur. Apalagi sampai saat ini, sudah ada 300 izin yang diajukan ke Jatim dari investor UK (United Kingdom). Dan dari jumlah itu, yang telah terealisasi sekitar Rp35,3 triliun.

Ketua KADIN Surabaya, Jamhadi

“Karena itulah KADIN Surabaya akan membantu pemerintah baik kota/kabupaten maupun provinsi, untuk menghubungi satu per satu investor yang sudah mengajukan rencana investasi agar segera merealisasikan rencananya,” terang Jamhadi, di sela-sela acara buka puasa bersama anak-anak yatim, di kantornya, Minggu (26/6/2015.

Jamhadi juga menilai, dengan keluarnya UK dari Uni Eropa (UE), masalah perdagangan dan kebijakan ekonomi kawasan, serta mata uang sudah pasti akan berbeda. Begitu juga masalah impor tarif and non tarif barrier, termasuk syarat-syarat keamanan dan kesehatan produk mereka.

”Dan ini sudah direspon negatif bagi ekonomi UK dan EU,” terang Dirut PT Tata Bumi Raya ini.

Diketahui, banyak ekonom memperkirakan output ekonomi UK akan turun hingga 3 persen akibat adanya trade barrier. Karena sekitar 55% dari total ekspor UK ke EU memberikan sumbangan sekitar 8,5% terhadap GDP di negara UK.

“Itu bisa menciptakan lapangan kerja kepada 2,5 juta penduduk. Berikutnya ada resiko lain yaitu Foreign Direct Investasi (FDI) yang masuk ke UK. Dalam 8 atau 10 tahun terakhir, terdapat 21% dari total investasi di UK masuk dalam FDI. Padahal FDI ini sebagian besar berasal negara-negara di EU,” jelas Jamhadi.

Dengan besaran nilai itu, tentunya dampak terhadap EU sangat besar karena UK berkontribusi 16% di pasar tunggal (single market), di bawah Jerman. Dengan kata lain, perdagangan UK tergantung dari EU sebagai pasar terbesarnya dari pada sebaliknya. Tapi dari total ekspornya EU ke mancanegara, 11% ke UK dan sumbangannya terhadap GDP EU sekitar 2%.

“Ini berbeda lagi dengan Belanda yang sangat  tergantung pada UK. Sekitar 4% dari total outputnya di ekspor ke UK yang melibatkan 400 ribu tenaga kerja. Tentu dengan keluarnya UK dari EU di tengah situasi ekonomi global yang dinamis, akan cenderung stagnasi,” ujarnya.

Dampak lainnya kemungkinan besar EU mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Kondisi itu juga akan berdampak sedikit terhadap perekonomian USA akibat  menguatnya US dollar.

Mata uang lainnya seperti Yen Jepang akan menguat, dan ekonominya mengalami penurunan. Berbeda dengan China yang kemungkinan berdampak kecil sekali. Sebab China pasar ekspor nya sudah terbentuk kuat.

“Di Indonesia, investasi UK termasuk dalam 5 besar. Karena itu kita akan terus memelihara hubungan dengan UK dan negara-negara EU. Disaat UK sedang dikecewakan EU, kita ingin terus mendekati potensi pasar investasi UK agar masuk Surabaya dan Jatim,” pungkasnya. (EP)

Leave a Reply