Jamhadi : Koordinasi dan Komuniaksi antar Daerah, Kunci Hindari Impor

SURABAYA, beritalima.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, Jamhadi menilai pemerintah daerah harus lebih meningkatkan komunikasi bisnis untuk memenuhi konsumsi daerah tanpa harus melakukan impor, khususnya di bidang industri perdagangan.

Ketua Kadin Surabaya Jamhadi

Menurut Jamhadi, selama ini pola komunikasi antar daerah masih lemah, sehingga impor sering menjadi pilihan gampang, terhadap kebutuhan tertentu. Menurutnya sebenarnya apa yang dibutuhkan daerah yang satu, bisa jadi dapat dipenuhi oleh daerah yang lain, dan bukannya dengan solusi impor.

Sebagai contoh misalnya Tuban membutuhkan ketela pohon, kenapa harus impor kalau di Trenggalek ada? Begitu juga sebaliknya atau dengan daerah lain, Ketimpangan-ketimpangan seperti ini sering terjadi akibat kurang adanya komunikasi antar pemerintah daerah.

“Karena itu kami usulkan agar masing-masing pemerintah daerah membikin direktori produk, kemudian disetor ke propinsi, baik itu hard copy maupun soft copy, lantas dititipkan ke Kadin, dan selanjutnya diupload di KJRI-KJRI kita, sehingga antar kita bisa memenuhi konsumsi kita sendiri,” terang Jamhadi, ketika ditemui, Sabtu (26/3/2016).

Hal yang sama juga sempat disampaikan Jamhadi, ketika diminta mewakili Kadin Jatim untuk memberikan pandangannya di acara Rapat Koordinasi, Sinkronisasi dan Optimalisasi Penanaman Modal di Jawa Timur, di Hotel Elmi Surabaya, Kamis (24/3/2016).

Jamhadi juga menyampaikan, faktanya sekarang ini banyak barang yang diimpor, ternyata sebenarnya tersedia di kota/kabupaten dan daerah lain di Indonesia.

“Ini artinya ada persoalan pada komunikasi dan koordinasi antar pemerintah daerah. Karena itu hendaknya pemda harus dekat dengan Kadin masing-masing dan pengusahanya masing-masing,” lanjutnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pola komunikasi dan koordinasi Tripartit antara Kadin beserta para pengusahanya, kalangan akademisi dengan risetnya, serta Pemda setempat harus dimaksimalkan.

Begitu pula dengan pariwisata, investasi dan dagang, yang ketiganya tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, sebelum orang berinvestasi, mereka akan melakkan dagang terlebih dulu. Kemudian berbicara pariwisata dan pada akhirnya berujung pada investasi.

Karena itu menurut Jamhadi, mestinya seperti sopir-sopir taksi, harusnya cukup pandai berbahasa Inggris, agar bila ada tamu pengusaha yang berdagang disini, bisa diajak mengenal obyek wisata termasuk wisata kuliner.

“Nah kalau para sopit taksi itu mampu berkomunikasi dengan baik, maka setelah mereka mengantarkan para pengusaha itu berdagang dan mengenal wisata, baru biasanya para pengusaha akan berbicara soal investasi,” terang Jamhadi.

Ia juga mencontohkan kondisi di Papua Nugini yang sangat membutuhkan banyak barang dari Negara lain. Mestinya ini menjadi peluang besar bagi Jawa Timur karena lokasi yang cukup dekat. Namun sayangnya, sekarang yang menjadi “raja” di sana malah pengusaha Malaysia.

“Padahal kita di Jawa Timur jauh lebih dekat. Dan segala kebutuhan mereka itu kita punya. Bahkan kalau dari Papua menuju Papua Nugini, bisa ditempuh hanya dengan kendaraan darat,” terangnya.

Karena itu bagi Jamhadi, solusi yang efektif bagi para pemerintah daerah di Katim bila ingin mengembangkan daerahnya adalah koordinasi, komunikasi dan sinkronisasi yang harus segera ditingkatkan.

“Hal ini bukan saja bisa menghindari seringnya kita melakukan impor, namun kita juga bisa menjadi “pemain” di beberapa Negara terangga kita yang membutuhkan barang yang ada di wilayah kita,” pungkasnya. (EP)

Leave a Reply