Jatim Perbesar Perdagangan Antar Daerah Guna Kurangi Impor Bahan Baku dari Luar Negeri

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Besarnya transaksi impor bahan baku dari negeri yang mencapai Rp35 triliun pada paruh pertama tahun ini, memaksa Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperbesar perdagangan antar daerah, untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku dari luar negeri.

Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, persentase bahan baku impor dan substitusinya pada 2014 mencapain 75%. Skala tersebut memang mengalami penurunan 9,6% ketimbang proporsi bahan baku impor pada 2013 yang mencapai 85%.

Namun angka ini masih dirasa sangat tinggi. Karena itu Gubernur Provinsi Jawa Timur Soekarwo mengatakan, besarnya ketergantungan impor dari luar negeri harus disetop secara perlahan-lahan. Dan diharapkan proprorsi barang impor dari luar negeri dapat ditekan di bawah 70% di tahun ini.

“Ini adalah penyakit. Bahan baku indusrti ini harus diganti dengan bahan baku antar provinsi” katanya dalam rangkaian acara Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia XIX di Surabaya, Rabu (7/10/2015).

Pakde, sapaan akrab Soekarwo menuturkan, penyetopan ketergantungan impor dianggap tidak mudah dan harus diupayakan secara bertahap. Karena itu pihaknya terus memacu perdagangan antar provinsi untuk mendapatkan bahan baku dan bahan baku penolong, terutama di kawasan Indonesia Timur.

“Kami menjalin kerja sama dagang dengan Sulawaesi tenggara di komoditas bauksit dan kakao. Sementara di komoditas hasil laut seperti udang dan ikan, kami perkuat kerja sama di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT),” terangnya.

Pakde juga mencontohkan kerja sama dengan NTT yang telah dimulai sejak 2011 lalu, telah menghasilkan transaksi sebesar Rp19 trilun pada 2014, dari kerjasama dua provinsi tersebut. Adapun komoditas dari Jawa Timur yang dikirim ke NTT berupa sepeda motor roa dua dan semen.

Selain itu, pemprov juga menggencarkan transaksi dagang di 26 provinsi lainnya, dimana hingga 2014, pendapatan ekspor Jatim ke 26 provinsi mencapai Rp 515 triliun. Sedang nilai impor Jatim dari 26 provinsi tersebut mencapai Rp 325 triliun.

“Dalam transaksi antar daerah ini, kami surplus Rp 90 triliun hingga tahun lalu. Dan tahun ini, tidak muluk-muluk, diharapkan bisa mencapai jumlah yang sama,” ujarnya. (Ep)

Leave a Reply