KPPU Gelar FGD, Kaji Kebijakan Penataan Pasar Ayam Ras

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – KPPU menggelar diskusi dengan peternakan ayam ras serentak di 5 (lima) kota, yaitu Bandung, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Demak, guna menghimpun informasi sebagai bagian dari proses perumusan saran kebijakan kepada Pemerintah dalam penataan pasar ternak ayam ras.

KPPU Gelar FGD, Kaji Kebijakan Penataan Pasar Ayam Ras

Hal ini didasari adanya kecenderungan tingginya tingkat ketergantungan pasokan input, terutama Day Old Chick (DOC) dan pakan ternak, serta lemahnya posisi tawar petani dalam menentukan harga ayam ras di pasaran.

Dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Surabaya, Aru Armando, kebijakan menyangkut peternakan ayam ras di Indonesia adalah salah satu objek kebijakan yang saat ini sedang dikaji KPPU.

“Dalam diskusi ini KPPU memberikan ruang bagi peternak ayam ras untuk menyuarakan fakta di lapangan bagaimana keberlangsungan usahanya. Terutama karena keberlangsungan usaha peternak mandiri yang diindikasikan menjadi sangat terancam akibat kinerja pasar yang tidak kondusif,” ungkapnya, Sabtu (27/2/2016).

Mencermati pada sisi hulu, menurut Aru, tingkat ketergantungan input (DOC dan pakan) peternak mandiri sangat tinggi disamping adanya diskriminasi perolehan input yang mengakibatkan biaya produksinya tidak se-efisien peternak yang terafiliasi maupun peternak yang bermitra.

“Sedangkan pada sisi hilir, posisi tawar peternak mandiri terhadap pedagang ayam hidup cukup rendah (20%) dibandingkan dominasi pasar peternak afiliasi dan mitra terintegrasi yang menguasai 80% pasar,” terang Aru.

Disisi lain, Kepala Dinas Peternakan Jatim, Maskur, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut mengakui pihaknya memang menghadapi bumerang terkait tata niaga unggas tersebut.

“Kalau harga tinggi kami didemo, begitupun kalau harga rendah juga didemo. Nah, kami harus menjaga agar stabil di tengah,” jelasnya.

Namun yang jadi masalah, lanjut Maskur, ketika harga daging ayam turun, maka banyak pelaku peternakan yang tidak bergairah. Sebaliknya ketika harga naik maka peternak berbondong-bondong meningkatkan produksi sedangkan masyarakat konsumen menjerit tidak sanggup membeli daging ayam.

Sementara salah seorang peternak mandiri, Sumarno, mengungkapkan kondisi peternak mandiri sekarang sangat menyedihkan karena tidak stabilnya harga ayam ras. Terlebih pabrikan DOC sekarang memiliki banyak mitra bisnis yang merupakan jaringan yang diciptakan sendiri oleh pabrikan tersebut.

“Kalau kondisinya seperti ini, para peternak madiri tentu kalah segalanya, ini yang harus dicarikan solusinya,” tandasnya. (EP)

Leave a Reply