KPPU Sidak Perdagangan Beras, Guna Hindari Munculnya Kartel Beras

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Menyikapi kondisi harga beras yang konon harganya sedang mahal di Jakarta, membuat Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Surabaya, Aru Armando langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di perdagangan beras yang dijual di sentra pasar tembok, Surabaya.

Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Surabaya, Aru Armando langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di perdagangan beras yang dijual di sentra pasar tembok, Surabaya

Menurut Aru, bersa sebagai bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat banyak, khususnya dalam hal distribusi, diduga sering dimainkan oknum pelaku kartel beras skala besar, terutama untuk mempermainkan harga dan stok beras. Karena itu, pengawasan terhadap tindak kecurangan perdagangan (khususnya saat perdagangan bebas Asia Tenggara dan perdagangan Trans Pasifik), menjadi agenda wajib dan penting.

“Pemain besar untuk komoditas pangan, khususnya beras mulai bergentayangan di Indonesia. Paling tidak, ada lima hingga tujuh pelaku usaha perberasan level nasional tengah melakukan praktik kartel alias memainkan stok dan harga beras yang bisa melemahkan peran Badan Usaha Logistik (Bulog) selaku institusi penjaga dan penyangga pangan nasional,” terangnya kepada wartawan disela-sela sidak, Jumat (27/11/2015).

Sementara itu, Elly selaku pemilik salah satu toko yang menjadi sasaran sidak yaitu Putra Jawa Indah mengakui, bahwa stok beras di Jawa Timur khususnya Surabaya relative aman dan tidak ada gejolak yang signifikan. Ini karena suplay dari beberapa daerah seperti lamongan, jember, madiun dan yang lainnya cukup tersedia.

“Kalau di Surabaya, harga beras relative stabil, karena pasokan dari daerah-daerah di Jawa Timur cukup lancer,” terang Elly.

Namun disisi lain, Elly mengakui bahwa kondisi ekonomi Indonesia yang kurang baik, menyebabkan terjadinya penurunan sekitar 30-40 persen, sejak Idul Fitri bulan Juli yang lalu.

Elly pemilik Putra Jawa Indah, salah satu toko yang menjadi sasaran sidak KPPU

“Setelah lebaran idul fitri sampai saat ini memang mengalami penurunan. Ini bias saya lihat dari pembeli yang biasanya ambil satu sak, sekarang ambilnya lima kiloan. Begitu juga yang dulunya ambil beras bagus, sekarang beralih ke beras murah,” katanya menjelaskan.

Sekalipun demikian, sebagai pedagang grosir dan juga eceran, diakui Elly, pihaknya masih optimis bahwa bisnis ini akan kembali mengalami perbaikan, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia.

“Saya tetap optimis bahwa kondisi ini akan segera membaik. Apalagi bila ada pengawasan yang baik soal harga beras, supaya tidak dimain-mainkan oleh pihak tertentu,” terang Elly. (Ep)

Leave a Reply