Morula IVF Surabaya Kampanyekan Bahwa Keinginan Memiliki Anak Bisa Diatasi

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kita sering dengan cepat menyebut perempuan atau laki-laki mandul ketika pasangan ini belum juga punya anak setelah beberapa waktu menikah. Padahal, selain istilah ini menyakitkan dan membunuh seketika harapan pasangan, masalah yang menimpa sebagian besar pasangan tersebut sebenamya adalah infertilitas (tidak subur), bukan sterilitas.

Artinya pasangan-pasangan ini sebenamya ada kemungkinan istri akan mengandung, hanya saja lebih kecil dibandingkan pasangan lain, dan membutuhkan bantuan ahli.

Direktur Morula IVF Surabaya, dr. Amang Surya Priyanto menjelaskan, Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan suami istri secara teratur tanpa kontrasepsi.

Morula IVF Surabaya Kampanyekan Bahwa Keinginan Memiliki Anak Bisa Diatasi

“Batasan waktu 12 bulan ini relatif, artinya pada wanita yang menikah di atas usia 35 tahun, sudah disebut infertil apabila belum mencapai kehamilan setelah 6 bulan,” terangnya di sela perayaan ulang tahun ke 7 Morula IVF Surabaya, di arena car free day Surabaya, Minggu (3/11/2019).

  1. Amang juga menambahkan, kesuburan adalah fungsi biologis yang peka terhadap stres dan kecemasan. Kondisi stres dan cemas secara kronis akan menurunkan kemungkinan program kesuburan untuk dapat berhasil.

“Persoalannya adalah ketika kita divonis memiliki masalah kesuburan, siapa yang tidak cemas dan stres? Belum lagi ketika upaya-upaya untuk mengandung tidak kunjung menghadirkan si buah hati, sedangkan tuntutan dari lingkungan sekitar semakin besar,” tambahnya.

Pada kelompok tertentu kehadiran buah hati akan sangat diharapkan, dengan berbagai alasan. Untuk membawa nama keluarga, melanjutkan bisnis orang tua, merawat di saat masa tua nanti, dan lain-lain. Kondisini ini seperti lingkaran setan.

Memperingati ulang tahunnya yang ke-7, Morula IVF Surabaya menggelar kampanye bertemakan You Are Not Alone

“Apalagi faktanya, semakin stres, semakin kecil kemungkinan program kehamilan akan berhasil,” terang dr. Amang, sambil menambahkan bahwa mereka yang pemah menunggu lama untuk memiliki buah hati sampai harus mengikuti program kehamilan, pasti mengenal masa-masa yang menekan itu.

Memperingati ulang tahunnya yang ke-7, Morula IVF Surabaya menggunakan momen ini untuk menggugah kesadaran masyarakat luas bahwa ketidaksuburan bukan akhir dari segalanya dan mengajak bagi pasangan yang mengalami masalah ini untuk tidak berhenti berusaha karena masalah ini bukan masalah kita sendiri.

“Karena itu tema yang kami angkat pada tahun ini adalah “You are not alone” atau anda tidak sendiri. Banyak masyarakat yang berada pada posisi seperti ini. Dan kami siap membantunya,” terang dr. Anang.

Lebih jauh dr. Anang menjabarkan bahwa arti “tidak sendiri” di sini dapat dimaknai dari beberapa dimensi, yaitu;

  1. “tidak sendiri”, berarti masalah ketidaksuburan bukan hanya masalah dari sisi wanita. Stigma di masyarakat luas masih banyak yang menyalahkan wanita (istri) apabila tidak segera hamil. Stigma ini menyebabkan istri akan merasa rendah diri ketika bertemu dengan keluarga suami, bahkan banyak dapat menyebabkan gangguan komunikasi antara pasangan suami istri yang dapat berujung pada perpisahan.

Menurut dr. Amang, masyarakat perlu mengetahui bahwa sebenamya faktor pria dan faktor wanita memiliki proporsi yang sama sebagai penyebab ketidaksuburan. Dalam usaha untuk mewujudkan impian memiliki buah hati, baik suami maupun istri memiliki peran yang sama besar.

“Karena itu, bagi para wanita diharapkan tidak malu lagi untuk berkomunikasi dengan pasangannya apabila memiliki masalah yang terkait ketidaksuburan. Sementara bagi para suami juga diharapkan mendampingi dan mendukung istri dalam usaha mendapatkan buah hati,” terangnya sambil menambahkan bahwa dukungan yang paling sederhana dapat diwujudkan dalam bentuk tidak malu untuk berkunjung ke klinik fertilitas dan memeriksakan kondisi spermanya.

  1. “tidak sendiri” yang kedua, berarti banyak pasangan usia subur di Indonesia yang mengalami ketidaksuburan. Dan ketika mengalami ketidaksuburan banyak pasangan justru menutup diri dan “minder” dalam hubungan sosial mereka, baik dari teman sebaya, lingkungan sekitar maupun keluarga besar.

“Padahal sebenamya ketidaksuhuran adalah kondisi medis, sama seperti kita sakit pada umumnya. Dan dengan berkonsultasi dengan ahli fertilitas dan mengenali penyebabnya dengan tepat, kondisi ini dapat diperbaiki,” terang dr. Amang, sambil menambahkan bahwa ketidaksuburan dialami oleh 10-15% pasangan usia subur di Indonesia.

  1. Adapun pemahaman “tidak sendiri” berikutnya adalah ada klinik fertilitas yang siap menemani dan membantu mewujudkan impian mendapatkan buah hati.

“Banyak pasangan yang mengalami ketidaksuburan cenderung putus asa dan menyalahkan takdir bahwa mereka tidak dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan buah hati. Padahal sebenamya di sekitar mereka ada klinik fertilitas yang dapat membantu mengenali penyebab ketidaksuburannya,” pungkas dr. Amang. (men)

Leave a Reply