Pemprov Jatim Siapkan 400 Milyar Untuk Bantu UMKM

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Melalui materi yang berjudul ‘Strategi dan Kebijakan Mewujudkan Resiliensi Ekonomi Jawa Timur’, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengungkapkan pemprov Jatim akan memberikan stimulus melalui APBD yang akan disalurkan kepada sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pada tahun 2016, Pemprov akan menganggarkan APBD sebesar Rp. 400 miliar yang akan disalurkan melalui Bank Jatim. Dan Bank Jatim akan memberikan bunga usaha sebesar 2% per tahun.

Nantinya Bank Jatim akan berperan menjadi APEX Bank untuk BPR di Jatim dengan suku bunga kredit efektif sebesar 5% per tahun, lalu BPR dapat menyalurkan dananya kepada UMKM dengan suku bunga maksimal 10% per tahun.

“Kami memiliki sasaran UMKM pada sektor primer dengan ketentuan bunga murah, cara mudah dan layanan cepat. Ini adalah setimulus yang diberikan pemrintah dalam menghadapi pelambatan ekonomi,” ungkap Soekarwo dalam acara forum kajian ekonomi dan keuangan regional provinsi Jatim, di Hotel JW. Mariiot Surabaya, Selasa (29/9/2015).

Pakde Karwo juga menuturkan, bahwa saat ini kredit UMKM cenderung stabil, namun sedikit melambat dibandingkan pada triwullan II tahun 2015. Pelambatan ini, di dorong oleh kredit pada sektor perdagangan yang memiliki share sebesar 56%.

Menurutnya, UMKM harus terus dikembangkan, karena dari 6,6 juta UMKM dapat menyerap sebesar 11,12 juta tenaga kerja. Kontribusi UMKM terhadap PDRB Jatim juga cukup tinggi sebesar 54,98% atau senilai dengan Rp. 1.100 trilliun.

“Pemerintah akan mengkonkritkan aspek produksi UMKM yang ditunjang oleh pembiayaan kompetitif meliputi bunga murah dengan syarat mudah serta pemasaran produk yang jitu,” imbuhnya.

Dalam paparannya, dijelaskan, bahwa makro ekonomi Jatim pada semester I tahun 2015 sebesar 821,23 terhadap PDRB. Saat ini, struktur PDRB Jatim ditopang sebesar 29,45 % pada sekrtor industri pengolahan, 17,44 % perdagangan besar dan eceran seperti reparasi mobil dan sepeda motor serta 14,67% berasal dari on farm atau pertanian, kehutanan dan perikanan.

“Jatim pada tahun 2016 akan berubah menjadi Provinsi Industri,” ungkapnya.

Pada kinerja perdagangan barang dan jasa, ekspor Jatim sebesar Rp. 357,34 triliiun pada semester I tahun 2015. Sedangkan, impor Jatim sebesar Rp. 336,45 trilliun sehingga ekspor-impor mencapai Rp. 693 trilliun.

Kinerja Investasi di Jatim, untuk izin prinsip PMA pada semester I 2015 sebesar Rp. 71,88 trilliun dengan realisasi hanya sebesar Rp. 10,44 trilliun. Sedangkan untuk, izin prinsip PMDN sebesar Rp. 12,80 trilliun dengan realisasi investasi sebesar Rp. 12,64 trilliun.

Selain itu, Soekarwo juga memastikan kepada investor, bahwa Jatim memiliki iklim investasi yang kondusif. Jatim juga memberikan jaminan kemudahan berinvestasi melalui penyediaan lahan, power plan atau ketersediaan listrik, perijinan yang cepat serta tenaga kerja terampil di berbagai bidang. (Edmen Paulus)

Leave a Reply