Terminal Teluk Lamong, Sukses Lakukan konservasi dan efisiensi energi

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan dukungan positif kepada Terminal Teluk Lamong dalam melakukan konservasi dan efisiensi energi sebagai terminal ramah lingkungan pertama di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staff Ahli Menteri Bidang Investasi dan Produksi Kemeterian ESDM, Agus Budi Wahjono, dalam Focus Group Discussion (FGD) di Ruang Rapat Cendana Gedung Utama Terminal Teluk Lamong pada hari Kamis (10/9).

FGD bertema Analisis dan Evaluasi Pemodelan dan Prakiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi diselenggarakan oleh Kementerian ESDM dengan mengundang beberapa praktisi dan akademisi dari Kementerian Perhubungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Institut Sepuluh Nopember (ITS).

Sugeng Mujiyanto, selaku Kepala Bidang Analisis dan Evaluasi Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian ESDM, melalui rilis yang diterima kabarsurabaya.com menjelaskan, PT Pelindo III (Persero) telah membuat inovasi pada Terminal Teluk Lamong dengan menciptakan konsep terminal canggih ramah lingkungan.

“Terminal Teluk Lamong merupakan green port dengan peralihan penggunaan energi, yang sebelumnya memakai bahan bakar minyak (BBM) beralih ke bahan bakar gas (BBG)”, ujarnya.

Pada diskusi tersebut diketahui bahwa kebutuhan energi nasional akan meningkat 4 kali lipat yang sebelumnya 991.17 MBOE (Million Barrels of Oil Eqiivalent) pada tahun 2010 menjadi 4.120,48 MBOE dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 7% dan pertumbuhan penduduk 0.8% setiap tahunnya.

“Menurut Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) ESDM, angka tersebut didominasi oleh penggunaan Bahan Bakar Minyak yang mencapai 99.8% dengan didominasi oleh sektor transportasi,” jelas Sugeng.

Dikatakan Dirut Terminal Teluk Lamong, Prasetyadi, komitmen sebagai terminal ramah lingkungan telah diterapkan oleh Terminal Teluk Lamong. Salah satunya dengan melakukan konversi / peralihan penggunaan Bahan Bakar Diesel ke listrik pada peralatan bongkar muat yang digunakan yaitu Automated Stacking Crane (ASC) dan Ship to Shore (STS) yang dapat berpotensi penghematan sebesar 170 Miliar / tahun.

“Dengan efisiensi energi yang dilakukan, Terminal Teluk Lamong dapat mengurangi biaya operasional lebih dari 40% dari terminal konvensional lainnya”, ujar Prasetyadi dalam paparannya.

Efisiensi dan Konversi Energi di Terminal Teluk Lamong, lanjut Prasetya, juga dilakukan pada lampu penerangan yang menggunakan sumber energi matahari serta penggunaan gas pada truk.

“PT Pelindo III memulai secara mandiri dalam memberikan edukasi kepada masyarakat untuk melakukan efisiensi dan konversi energi di Terminal Teluk Lamong dengan hanya mengijinkan truk berbahan bakar gas yang masuk ke dalam terminal”, tambah Prasetyadi.

Dengan adanya acara tersebut, diharapkan komitmen Pemerintah dan seluruh Instansi terkait, dapat terus terbangun untuk melakukan penghematan energi dengan memberikan kemudahan dan pembangunan  infrastruktur ramah lingkungan yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat. (Edmen Paulus)

Leave a Reply