Ciputra Waterpark Gelar Pameran Foto

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Untuk pertama kalinya Ciputra Waterpark Surabaya menyajikan pameran fotografi dari 3 fotografer profesional yang menamakan diri “Trio Harmoni” (D. Agung Kiprismandoyo – Associate Direktur Citraland Surabaya, Beky Subechi – fotografer senior Jawa Pos dan Mamuk Ismuntoro – fotografer profesional), berlokasi di Sinbad Art Gallery, area lounge Ciputra Waterpark.

Suasana saat jumpa pers di Ciputra Waterpark, Minggu (20/12/2015)

Pameran yang dimulai 19 Desember 2015 hingga 3 Januari 2016 ini merupakan bagian dari konsep baru ‘Artainment’ yang mengusung penggabungan unsur seni dan hiburan ke dalam satu wadah. Selain juga untuk mengisi dan menyambut musim liburan sekolah, natal dan tahun baru.

Seperti dikemukakan General Manager Ciputra Waterpark Soeriananda, lewat pameran fotografi ini, pengunjung dihibur dengan menikmati beberapa sudut kota dunia yang juga dapat memberikan penambahan wawasan.

“Pengunjung juga dapat menambah pengetahuan lewat buku-buku yang dipinjamkan di area pameran fotografi tersebut,” terangnya pada wartawan, Minggu (20/12/2015).

Pameran fotografi ini sekaligus sebagai awal digunakannya Sinbad Art Gallery untuk menggelar kegiatan seni lainnya. Ke depan gallery seluas 40 meter persegi ini akan dapat digunakan sebagai aktualisasi para seniman Surabaya maupun kota-kota lainnya.

Fotografi tampaknya tak sekedar soal menekan tombol dan menjadikan momentum menjadi sejarah. Fotografi telah menjadi dialog yang tetap hangat dan aktual dalam setiap perjumpaan. Trio Harmoni telah berdialog dalam banyak hal. Tentu saja fotografi yang menjadi topik utama dalam setiap perjumpaan kecil di tengah kesibukan.

Saat menyusuri jalanan di Sidney, Paris, Wina, Angkor, atau Singapura, Agung Krisprimandoyo tak ingin kehilangan waktu dan terlupa suasana kota-kota dunia tersebut.

General Manager Ciputra Waterpark Soeriananda didampingi GSA & IT Manager Didik Iswahyudi saat melihat-lihat pameran

Di belahan lain bumi, Beky Subechi menyelami dengan tenang keriuhan kota suci Mekkah dan Madinah. Jiwa profesional sebagai fotografer mendorongnya untuk mereka momentum itu dengan jepretan kamera.

Sementara itu, Mamuk Ismuntoro menyajikan hasil bidikan kamera terkait jejak kota pahlawan Surabaya sejak 2006 silam. Jalanan sempit kampung Kalimas Udik berhasil disimpan lewat perjalanan pemotretannya.

“Area publik sudah saatnya menjadi lahan pagelaran seni. Masyarakat awam harus ikut menikmati karya seni seperti ini. Jadi tidak melulu suatu pameran karya seni berada di tempat eksklusif seperti selama ini berlaku,” ujar Mamuk.

Ditambahkan, masyarakat boleh mengoleksi karya foto yang dipamerkan. “Hasilnya akan kita donasikan kepada saudara-saudara yang berada di Liponsos Keputih Sukolilo Surabaya,” imbuhnya. (Ep)

Leave a Reply