IFC Surabaya Chapter Kini Siap Berkiprah

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Gagasan dan ide untuk memajukan industri mode Indonesia jadi inspirasi kalangan perancang busana yang tergabung dalam Indonesia Fashion Chamber (IFC), dalam membangun satu visi dan misi pelaku industri mode dan masyarakat.

Para pengurus IFC Surabaya Chapter yang dikukuhkan di Surabaya, Kamis (14/1/2016)

Hal ini diungkapkan member of advisor board IFC, Taruna Kusmayadi, dalam pengukuhan kepengurusan IFC Surabaya Chapter, di Hotel Swiss Bell In Manyar Kertoarjo, Surabaya (14/1/2016)

Saat ini, IFC sudah membentuk wadah melalui chapter (cabang) masing-masing kota diantaranya Jakarta, Surabaya, Jogyakarta, Semarang, Bandung, Aceh, Padang, Medan, Pontianak, Denpasar, dan sudah memiliki 118 anggota dengan latar belakang kurasi fashion designer yang sudah memiliki porto folio karya layak go Internasional.

Diakui Taruna, keunikan budaya Indonesia adalah bekal untuk melakukan inovasi dari sisi pembinaan kreativitas seperti program incubator, workshop, training maupun FGD (Focus Group Discussion) untuk menyatukan ide baik penyelenggaran dagang skala lokal maupun internasional.

“Sebagai awal ide global, secara target tahun 2025, Indonesia bercita-cita jadi salah satu pusat mode dunia, yang akan dimulai sebagai pusat mode muslim (modest fashion) lewat produk ready to wear mengoptimalkan lokal inspirasi dengan spirit berkelanjuta,” terangnya.

Dukungan senada, Ketua terpilih IFC Chapter Surabaya, Alphiana Chandrajani sekaligus fashion designer moslem wear mengatakan, keberadaan ekosistem industri mode secara garis besar terbagi dalam rantai kreatif mulai proses kreasi, proujsi, distribusi, penjualan hingga archiving (pengarsipan) dan nurturance environment (lingkungan pengasuhan) mencakup pendidikan dan apresiasi.

“Akar dari lahirya karya inovatif adalah menyiapkan generasi baru siap bersaing melalui pengembangan ekonomi kreatif, terkait pengembangan bisnis mode. Untuk itu, kesiapan strategi penguatan branding harus disertai penguatan riset, penelitian dan peningkatan kapasita kinerja secara luas,” jelasnya.

“Trend itu mahal, sama halnya membawa pengaruh perubahan gaya hidup dengan barometer kreatif. Nah itu semua didapat dari identifikasi designer yang jeli menankap peluang potensi karakter kemampuan  yan dimiliki,” imbuh Elizabeth Njo May Fen alias Afen, perancang busana sekaligus pemilik sekolah mode pison art di Surabaya. (Ep)

Leave a Reply