Keris ‘Kanjeng Kyai Soerabaja’ akan dibuat di The Magical Keris

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Keris sebagai warisan budaya, saat ini bagi sebagian besar masyarakat Indonesia – terutama anak muda – dipersepsikan sebagai wujud budaya ketinggalan jaman dan merupakan benda magis yang bisa membahayakan.

Salah satu penyebab pudarnya kejayaan keris juga disebabkan tidak adanya usaha-usaha kreatif seputar keris, terutama dalam menjawab kebutuhan jaman.

Padahal menurut Freddy H Istanto dari Sjarikat Poesaka Soerabaia, keris adalah seni tempa logam khas Indonesia yang sarat dengan seni ketrampilan tingkat tinggi pada aspek aspek estetik dhapur, pamor dan hiasan kinatah.

“Bentuk fisik keris juga punya nama sebutan yang memaknai harapan dari pemiliknya. Bahkan keindahan dan makna simbolik yang dikandung menjadikan keris sebuah karya seni adiluhung,” terangnya.

Melihat nilai sejarah dari keris inilah yang melatarbelakangi Wismilak untuk menggelar pameran keris dengan tema ‘The Magical Keris’. Tidak kurang dari 250 keris dari seluruh penjuru Indonesia hadir dan dipamerkan dalam pameran keris ini.

“Ini adalah bagian dari program CSR dalam Wismilak Foundation, yang terkait dengan peduli budaya,” terang Anton Teguh dari Wismilak di Surabaya, Rabu (19/8/2015).

Anton juga menerangkan, pameran yang mengambil lokasi di Graha Wismilak Jalan Raya Darmo  Surabaya dan akan berlangsung hingga 26 Agustus 2015 mendatang, juga diwarnai dengan demo pembuatan keris dan warangka oleh pengrajin keris.

“Selama lima hari disini juga akan di ciptakan keris sebagai Pusaka Surabaya yang bergelar ‘Kanjeng Kyai Soerabaja’ oleh beberapa mPu dari Paguyuban Mega Remeng Sumenep yang akan diserahkan pada Walikota pada akhir pameran,” lanjut Anton yang juga sebagai corporate Training & Development Manager PT Wismilak Inti Makmur Tbk.

Anton juga menambahkan, pameran ini selain ingin mengubah cara pikir masyarakat bahwa keris adalah benda yang memiliki unsur magis, serta ingin mengangkat komunitas pengrajin keris dari Sumenep yang merupakan industri besar dengan lebih dari 500 pengrajin ada disana. (Edmen Paulus)

Leave a Reply