RS. Dr. Soetomo Dorong Masyarakat Indonesia Sadar Resistensi Antibiotik

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan antibiotic, membuat tim Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo mendorong pemerintah untuk membuat regulasi tentang penggunaan antibiotik di tingkat rumah sakit, Puskesmas, dan masyarakat.

Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK., dari Departemen Mikrobiologi Klinik FK UNAIR

Diketahui, penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat mengakibatkan kuman di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat, sehingga berdampak tidak baik terhadap tubuh seseorang.

Dikatakan Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK., dari Departemen Mikrobiologi Klinik FK UNAIR, prevalensi terhadap MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus) cukup berbahaya.

Guru Besar FK UNAIR itu menunjuk hasil studi terbarunya tentang kuman Staphylococcus aureus yang mengalami resistensi pada antibiotik jenis Methicillin (MRSA) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Kuman tersebut menginfeksi sebanyak 8,1% dari 643 pasien di RSUD Dr. Soetomo. Meski demikian, ia mengakui salah satu kendala untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh resistensi antibiotik adalah kurangnya validasi data dari seluruh wilayah di Indonesia.

“Selama ini kita kekurangan data mengenai jenis bakteri yang sulit diobati, itu menyulitkan validasi,” tutur Prof. Kuntaman, melalui media release, Kamis (31/3/2016).

Temuan hasil kolaborasi riset antara FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dengan Erasmus Medisch Centrum, Belanda ini, rencananya akan dipresentasikan pada tanggal 9 April 2016 mendatang, pada European Congress of Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ECCMID) di Amsterdam.

Hasil risetnya yang lain, Prof. Kuntaman menyampaikan bahwa kuman penghasil ESBL (Extended-Spectrum Beta-Lactamase) di Indonesia juga cukup tinggi, yakni berkisar 30% – 60% pada tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan ketaatan terhadap standard precaution.

Bahkan, kuman penghasil ESBL itu sudah mengalami resisten terhadap antibiotik jenis Carbapenem, yaitu antibiotik yang dapat menghambat segala aktivitas antibakteri. Hal ini muncul dari hasil risetnya bersama Prof. Shirakawa dari Universitas Kobe, Jepang.

Dari banyak hasil riset yang dilakukan di bidang resistensi mikroba terhadap antibiotik, Prof. Kuntaman yang tergabung dalam tim Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) berencana mengajukan guidelines kepada pemerintah untuk membuat regulasi agar MRSA tidak berbahaya.

Apabila guidelines yang ia bersama tim KPRA ajukan diterima oleh pemerintah, maka sejumlah peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotik bisa diterapkan. Yaitu antara lain pelarangan terhadap apotek untuk menjual obat tanpa resep, dan membatasi masyarakat untuk menggunakan obat-obatan tanpa resep dokter.

“Rencananya, tahun ini tim KPRA mengajukan guidelines kepada pemerintah agar MRSA tidak berbahaya dan merugikan BPJS Kesehatan. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa penyakit yang diakibatkan oleh resistensi kuman terhadap antibiotik itu juga membebani BPJS Kesehatan,” imbuh Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik, FK UNAIR itu. (EP)

Leave a Reply