34 C
New York
Selasa, Agustus 9, 2022

Buy now

Lurah Penjaringan Sari Ditahan Terkait Kasus Prona

SURABAYA (Kabarsurabaya.com) Penyidik pidana khusus (Pidsus) Kejaksaan negeri (Kejari) Surabaya menahan Wahyu Priherdianto yang merupakan Lurah Penjaringan Sari. Wahyu terjerat dengan kasus pungutan liar pengurusan sertifikat proyek operasional agraria program nasional (Prona) di Penjaringan Sari.

Wahyu datang ke Kejari Surabaya pada tanggal 11.30, yang didampingi oleh kuasa hukumnya, dan langsung melakukan pemeriksaan kasus ini ke Pidsus. Hal ini dibenarkan Kepala Kejari Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi mengatakan Kejari Surabaya telah menerima dengan tersangka Wahyu yang merupakan lurah Panjaringan Sari.

Tersangka menutup wajah saat dibawa mobil Kejaksaan
“Memang benar, tersangka datang memenuhi panggilan kita,” katanya, kemarin (27/10/15).

Menjalani pemeriksaan kurang lebih selama tiga jam, tersangka langsung dibawa untuk menjalani pemeriksaan, dan langsung dijebloskan ke dalam Rumah Tahanan (Rutan) kelas 1 Surabaya yang berada di daerah Medaeng, Sidoarjo.

“Penahanan ini dilakukan agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti,” kata Didik.

Didik mengatakan dalam kasus ini Kejari Surabaya telah menetapkan satu tersangka yaitu lurah Penjaringansari, Wahyu Priherdianto. Wahyu ditetapkan tersangka lantaran dianggap orang yang bertanggung jawab dalam pungli pengurusan Prona, yang semestinya bebas biaya. Besaran pungutan itu bervariasi mulai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.

“Total pungutan mencapai Rp 379 juta, dan kita baru menentukan satu orang tersangka, namun jika ada bukti baru yang mengatakan ada tersangka baru akan ditindak lanjuti,” terangnya.

Dengan penahanan tersangka itu, Kejari Surabaya telah menetapkan empat orang jaksa penuntut umum (JPU) yang akan memeriksa kasus ini.

“Kita sudah siapkan jaksanya, jadi secepatnya bekas jadi dan langsung kita kirim ke pengadilan tipikor,” urainya.

Dengan perbuatannya itu, tersangka Wahyu Priherdianto dijerat dengan pasal 12 huruf B, Pasal 12 huruf E, pasal 11, dan Pasal 5 ayat 2 UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak korupsi.

“Ancaman hukuamnya mencapai 15 tahun kurungan penjara,” tuturnya.

Kasus ini bermula sejak Januari 2015, saat itu keluarahan penjaringan sari mengajukan pengurusan program sertifikat prona dari BPN Surabaya. Dalam program itu ada 250 pemohon yang ikut mengajukan pengurusan Prona. Sesuai ketentuannya , program ini gratis , pemohon tidak dikenakan biaya sama sekali hanya biaya meterai dan pengukuran.

Namun dalam prakteknya tersangka Wahyu ini melaukan pungutan kepada perserta yang ikut dalam program tersebut dengan menarik sebesar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta untuk setiap pemohon. Sehingga hal ini membuat Kejari Surabaya langsung memeriksa kasus ini, dan menentukan Wahyu sebagai tersangka dalam kasus ini. (KS2/RED)

Related Articles

Stay Connected

22,764FansSuka
3,432PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles