Pelapor Penipuan Tujuh Kg Emas Kecewa Kinerja Penyidik

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Kinerja oknum penyidik Polda Jatim disorot pelapor Tan Imam Maulana (42), warga Jl. Darmo Harapan Indah, Surabaya. Ini setelah laporannya tak kunjung ada hasilnya.

Tan Iman Maulana yang sudah mencari keadilan selama 10 tahun ini mempertanyakan kinerja oknum penyidik dari Subdit I Kamneg Ditreskrimum. Lantaran penyidik malah terkesan menyudutkannya selaku pelapor.

Tan Iman Maulana saat melaporkan kasus penipuan ke Polda Jatim beberapa waktu lalu

Bahkan, beberapa pertanyaan yang diajukan oknum penyidik terkait laporan penipuan emas batangan seberat 7 kilogram atau senilai Rp 1,4 miliar tersebut dinilainya tak masuk akal.

“Masak saya ditanya, emas asalnya darimana dan berapa pieces yang telah diserahkan. Khan semua nota dan surat emas sudah saya berikan (kepada pelapor,red) beserta emas 7 kg,” jelas Tan Iman Maulana, Rabu (19/8/2015).

Padahal kasus itu sudah terjadi 10 tahun lalu, jika dirinya memberikan petunjuk dimana emas itu dibeli, dirinya juga mensaksikan apakah pemilik toko mau bersaksi terhadapnya.

“Apakah mereka mau menjadi saksi terhadap saya? Sekarang saya tanya, masak kalau kita membeli emas apalagi batangan tak diberi nota? Jelas itu tidak mungkin. Pertanyaannya sungguh tak masuk akal,” keluhnya.

Atas rasa tak puas terhadap oknum penyidik, pelapor mengadu kepada beberapa pejabat utama di Polda Jatim diantaranya Kapolda, Irwasda, Kabid Propam, Kabidkum, Kalabfor.

Tan Iman tercatat telah melaporkan kedua terlapor pada Maret 2015 lalu. Kasus itu bermula pada 10 tahun lalu saat menjalin kerja sama bisnis.

Saat itu, Tan Iman dan terlapor H sepakat menjalin kerja sama dalam bidang property. Mereka diberi modal oleh Terlapor S senilai Rp 2,7 miliar. Bisnis tersebut lancar hingga awal 2006. Namun dalam perkembangannya, uang modal dihabiskan oleh H untuk bermain valas.

Namun S tak peduli, dan minta Tan Iman mengembalikan uangnya. Akhir di 2006, Tan Iman diundang datang ke rumah Sony. Di situ Tan Iman mengaku dipaksa untuk mengembalikan utangnya. Akhirnya Tan Iman bersedia membayar dengan emas seberat 7 kg yang bernilai Rp 1,4 miliar.

Namun dia kaget karena Sony kembali meminta agar sisa utang yang Rp 1,3 miliar juga dilunasi. Tan Iman akhirnya menolak karena beranggapan uang modal sisa adalah tanggung jawab Hengky karena sifatnya yang patungan.

Karena enggan membayar, Tan Iman dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dan pada sidang pengadilan divonis 1 tahun penjara pada 2007. Seusi menjalani hukuman ternyata Tan Iman masih beruruan dengan S.

S mengajukan penyitaan terhadap dua rumah Tan Iman di Darmo harapan yang bernilai Rp 6 miliar. Namun hal itu gagal karena hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menolak permohonan itu.

Tak terima Tan Iman balik melaporkan S dan H ke Polda Jatim 27 Maret lalu. Laporan itu diterima dengan bukti laporan bernomor: Tbl/488/III/2015/UM/Jatim. Namun ternyata setelah dimintai keterangan penyidik baik pelapor dan terlapor, Tan Iman mulai mengeluhkan kinerja penyidik yang dinilainya justru memojokkannya.

Sementara itu ditempat terpisah Kabid Humas Polda Jatim Kombespol RP Argo Yuono mengatakan jika merasa tidak puas atas kinerja penyidik pelapor punya hal bila tidak puas dan akan melapor.

“Hak bagi siapapun untuk melapor. Itu sebagai bentuk pengawasan,” kata Perwira Menengah Dengan Tiga Melati di Pundak ini. (red/cc)

Leave a Reply