27.1 C
New York
Sabtu, Agustus 13, 2022

Buy now

PWI : Media Tidak Perlu Takut Ancaman, Selama Benar

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Penayangan Iklan oleh pengacara LW, pengemudi mobil Lamborghini yang terlibat kecelakaan yang mengakibatkan seorang meninggal dunia dan dua orang lainnya mengalami luka-luka, mendapat reaksi keras dari awak media.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim juga ikut menyuarakan dan menyayangkan isi iklan yang berbau ancaman kepada awak media tersebut.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, Akhmad Munir

Ketua PWI Jatim,  Akhmad Munir , mengatakan bahwa pihaknya sangat menyayangkan isi di dalam iklan tersebut, karena kental dengan nuansa ancaman terhadap kebebasan pers.

“Nada ancaman itu jelas terlihat di dalam iklan berisi pengumuman dari Amoz HZ Taka dan Associates yang merupakan kuasa hukum WL, yang muncul di sejumlah media cetak terbitan Surabaya,” jelasnya kepada para wartawan, Kamis (3/12/2015).

PWI, lanjut Munir, meminta kepada wartawan untuk tidak takut terhadap segala bentuk ancaman dan jangan berhenti mengungkap secara benar serta profesional terkait kasus kecelakaan yang terjadi Minggu (29/11/2015) di Jalan Manyar Kertoarjo Surabaya tersebut.

“Selama berita itu ditulis benar dan sesuai kaidah jurnalistik, kami akan mengawal media dan wartawan jika nantinya dipermasalahkan oleh pihak tertentu,” katanya.

Seperti diketahui, dalam iklan yang dimunculkan cukup besar di media masa di Surabaya itu, khusunya pada paragraf sebelum penutup tertulis, “Untuk itu kami mengimbau/mengingatkan kepada media cetak, media elektronik (termasuk pengguna sosial media), masyarakat (perusahaan dan individu) untuk tidak memberikan pemberitaan/pernyataan yang negatif tanpa didasari dengan bukti-bukti yang kuat, yang dapat merugikan klien kami. Sehingga kami akan menempuh jalur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Pernyataan yang tertulis itu, menurut Munir, menunjukkan adanya model baru dan bentuk arogansi terhadap media sehingga terkesan ada pengekangan terhadap profesi wartawan yang di dalamnya mengandung perlindungan profesi.

“Kalau dulu ancaman kita adalah sistem politik, sekarang ini ancamannya adalah orang berduit,” ucap Kepala LKBN Antara Biro Jatim tersebut.

Dia juga berpesan kepada jurnalis untuk menulis dengan mematuhi kode etik jurnalistik, seperti menguji informasi, nara sumber kompeten, cek dan ricek, mengutamakan fakta, bukan opini, berimbang, dan sebagainya.

Terkait kasus sengketa pers, lanjutnya, sudah diatur mekanismenya sesuai UU Nomor 40/1999 tentang Pers bahwa setiap sengketa atau delik pidana pers itu diproses dan diselesaikan melalui dewan pers dengan didahului menggunakan hak jawab.

“Bahkan dewan pers telah menandatangani nota kesepahaman dengan kejaksaan dan Polri bahwa penyelesaian sengketa pers diselesaikan di dewan pers,” katanya.

Meski menyayangkan iklan yang bernada ancaman pada awak media, namun Munir mengakui bahwa iklan tersebut juga mengandung pesan khusus yang tersirat dalam kasus ini, yakni memberikan pencerahan bahwa tugas seorang jurnalis harus benar-benar profesional. (Ep)

Related Articles

Stay Connected

22,764FansSuka
3,434PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles