Dai dan Ustadz Harus Menjadi Agen Pertumbuhan Perbankan Syariah

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Perkembangan market share perbankan syariah di Jawa Timur yang belum menunjukkan perkembangan yang signifikan (hanya berada pada kisaran 2%-6% sejak tahun 2010 sampai 2014), telah memunculkan keinginan untuk ‘menulis sejarah’ pengembangan ekonomi syariah yang terakselerasi dan terarah dengan baik.

Kegiatan Seminar Ekonomi Syariah di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Surabaya, Kamis (30/7/2015)

Dikemukakan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Syarifuddin Bassara, dalam melakukan akselerasi pengembangan ekonomi syariah, BI berkoordinasi dengan Kantor Regional 3 OJK, dan para praktisi-penggiat ekonomi syariah, menyepakati penyusunan kajian grand design Program Pengembangan dan Akselerasi Ekonomi Syariah (PPAES).

“Grand design PPAES ini bertujuan untuk dapat meraih market share perbankan syariah diangka 20% di tahun 2020,” terang Syarifuddin, dalam acara seminar ekonomi syariah di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Surabaya, Kamis (30/7/2015)

Dan untuk mewujudkan hal itu, dikatakan Syarifuddin, BI menyelaraskan visi dan misi pengembangan ekonomi syariah di daerah dan nasional, untuk dikembangkan di berbagai daerah.

Dan setelah penyelarasan dilakukan, kemudian muncullah rencana untuk melaksanakan sebuah deklarasi untuk menunjukkan komitmen dari Bank Indonesia, OJK, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengakselerasi ekonomi syariah di provinsi ini.

Deklarasi yang disebut sebagai “Deklarasi Surabaya” ini memiliki 5 pilar utama, yaitu; Menyiapkan dan menyediakan sumber daya insane, membangkitkan dan meningkatkan kesadaran serta komitmen ekonomi syariah masyarakat, membangun dan menguatkan basis, jaringan, dan keterkaitan bisnis syariah.

“Sementara dua poin lainnya adalah meningkatkan kualitas sistem manajemen dan tata kelola lembaga ekonomi dan keuangan syariah, serta mengembangkan kebijakan strategis yang mendukung akselerasi ekonomi syariah,” terang Syarifuddin.

Adapun target dari semua ini menurut Syariffudin adalah terwujudnya Jawa Timur sebagai regional ekonomi syariah terbesar di Indonesia, yang mengintegrasikan sektor keuangan dengan sektor riil berbasiskan ekonomi rakyat yang bermitra dengan industri menengah dan besar.

“Untuk itulah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur melakukan berbagai aktifitas dan program, seperti Edukasi Keuangan Syariah, Focus Group Discussion (FGD), mengadakan Indonesia Sharia Economic Festival 2015, dan lainnya,” jelas Syarifuddin.

Lebih jauh Syarifuddin menyadari bahwa salah satu hambatan besar perkembangan perekonomian syariah secara umum ialah masih rendahnya wawasan, informasi dan pemahaman mengenai ekonomi syariah, baik di tataran teori maupun praktek.

Bahkan dalam konteks perbankan, hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli menyebutkan bahwa saat ini nasabah perbankan syariah yang dapat dikategorikan sebagai sharia loyalist hanyalah sebagian kecil dibandingkan nasabah yang bersifat mengambang (floating).

“Ini artinya masyarakat kita masih banyak yang belum bisa membedakan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional dengan baik dan benar,” terangnya.

Bahkan yang menarik, situasi yang sama bahkan masih sering dijumpai pada kalangan ulama dan atau ustadz yang ternyata masih belum mendapatkan wawasan pengetahuan mengenai ekonomi syariah secara komprehensif.

Dan tentu saja ini membawa dampak terhadap lambatnya perkembangan share perbankan syariah terhadap total share perbankan, baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun pengumpulan dana pihak ketiga.

Dengan melihat adanya potensi besar yang dapat dikontribusikan oleh para dai dan ustadz sebagai salah satu kalangan yang dekat dan intense berdialog dengan masyarakat, diharapkan para dai dan ustadz dapat memberikan perannya sebagai pendakwah untuk mendidik dan memberikan pemahaman ekonomi syariah yang lebih baik kepada masyarakat.

“Para dai dan ustadz memiliki banyak kesempatan dan sarana untuk dapat meningkatkan wawasan ekonomi syariah masyarakat,” jelas Syarifuddin. (Edmen Paulus)

Leave a Reply