DPRD Jatim Sahkan Dua Raperda Menjadi Perda di Penghujung Tahun 2015

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Akhir tahun 2015, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur mengesahkan dua rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang Sistem Kesehatan Provinsi dan Raperda tentang Upaya Kesehatan Provinsi Jatim menjadi Peraturan Daerah (Perda).

DPRD Jatim Sahkan Dua Raperda Menjadi Perda di Penghujung Tahun 2015

Juru Bicara Fraksi PKB Jatim, Chusainuddin di DPRD Jatim, Kamis (31/12) mengatakan fraksi PKB dapat menyetujui dua raperda tersebut menjadi perda namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan.
Lebih lanjut adapun catatannya yang pertama yaitu perda system kesehatan ini harus mampu menjadi instrument penguatan koordinasi supervise dan pengendalian pelaksanaan system kesehatan dikabupaten/kota, sehingga perda ini dapat menjadi acuan dan dipedomani olehkab/kota dalam menyusun kebijakan system kesehatan di wilayahnya.

“Tujuan perda system kesehatan ini diharapkan pelayanan dasar kesehatan tidak hanya terkonsentrasi di provinsi saja, akan tetapi juga bias terdesentralisasi dilevel kab/kota, dan juga mengurangi rujukan yang selalu menumpuk di Dr. soetomo,” ujarnya.

Kedua yaitu dengan adanya dua perda ini juga harus mampu mengatasi pemerataan penyebaran posyandu maupun puskesmas diseluruh pelosok seluruh wilayah jatim, serta juga penyebaran tenaga medis seluruh Jatim, dan juga melindungi tenaga kesehatan local dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Setelah ditetapkan menjadi perda pihaknya mendesak kepada Gubernur Jatim menetapkan aturan teknis pelaksanaannya yang dituangkan dalam peraturan gubernur (Pergub),” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara Fraksi PDIP Jatim, Gunawan HS mengatakan fraksi PDIP mendukung dan menyetujui dua raperda itu menjadi perda, tapi ada catatan yang perlu diperhatikan.

Dengan adanya dua perda tersebut pihak pemerintah provinsi makin memihak pada aspek layanan promotif dan preventif dalam kesehatan, tidak hanya kuratifnya saja, pendekatan yang dilakukan harus bersifat parsial dan menyelesaikan masalah kesehatan secara holistik.

Kedua partisipasi masyarakat dalam upaya kesehatan dapat makin optimal, khususnya dalam upaya kesehatan promotif dan preventif, dengan demikian diharapkan dapat menurunkan jumlah insiden maupun prevalensi berbagai penyakit.

Ketiga kesehatan di Jatim menjadi membaik, khususnya dapat menekan angka kematian bayi dan angka kematian ibu dapat ditekan serendah mungkin.

“Kita berharap mewujudkan masyarakat yang sehat, dimana didalamnya tidak ada lagi wabah penyakit maupun kurang gizi yang merajalela,” pungkasnya. (Kj/Ep)

Leave a Reply