Inflasi Jawa Timur pada Mei 2015 Dipicu Kelompok Volatile Food

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Inflasi Jawa Timur pada Mei 2015 sebesar 6,69% (yoy) atau 0,41% (mtm), lebih rendah dibandingkan Nasional (7,15%-yoy dan 0,50%-mtm). Berdasarkan disagregasi bulanan, pendorong utama inflasi adalah kelompok volatile food (0,75%), sementara kelompok administered price dan core inflation mengalami inflasi yang lebih rendah, masing-masing 0,38% dan 0,30%.

Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim Soekowardojo

Tingginya inflasi volatile food ini menurut Deputi Direktur Bank Indonesia Jatim Soekowardojo disebabkan kenaikan harga komoditas telur ayam ras (8,52%), bawang merah (8,55%), daging ayam ras (3,17%) dan cabai merah (36,38%) yang lebih disebabkan oleh faktor produksi serta tingginya permintaan dari industri kue dan makanan yang telah melakukan proses produksi menjelang Ramadhan dan Lebaran.

“Kenaikan harga Pertamax dan tarif listrik di awal Mei 2015 yang direspon terbatas serta adanya koreksi harga pada tarif angkutan antar kota dan kereta api, mendorong rendahnya inflasi kelompok administered price,” jelas Soekowardojo.

Sementara inflasi kelompok core inflation disebabkan oleh kelompok makanan-minuman antara lain komoditas gula pasir (2,56%) dan soto (2,06%) sebagai dampak lanjutan kenaikan harga bahan makanan dan peningkatan permintaan.

Secara spasial menurut Soekowardojo, dari 8 (delapan) Kabupaten/Kota perhitungan inflasi BPS, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Banyuwangi (0,55%), terendah di Kota Kediri (0,21%). Sedangkan secara tahunan, Kota Malang mengalami inflasi tertinggi (7,08%) dan terendah di Banyuwangi (4,97%). Karena itu pada tahun 2015, inflasi Jawa Timur diperkirakan berada pada range 4% + 1% sesuai dengan sasaran inflasi Nasional.

“Berbagai strategi yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terangkum dalam 5 (lima) strategi utama yang disingkat “gadis remo kangen” yaitu Penguatan Kelembagaan; Produksi, Distribusi, Konektivitas; Regulasi dan Monitoring; Kajian dan Informasi; serta Pengendalian Ekspektasi, diharapkan dapat mengawal pencapaian inflasi yang rendah dan stabil di Jawa Timur,” pungkas Soekowardojo. (Edmen Paulus)

Leave a Reply