Jadi Barometer Kebersihan, 16 WNA Kunjungi Kampung Gundih

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Sebanyak 16 orang rombingan organisasi Friendship Force International. Organisasi mengunjungi kampung Gundih, tadi pagi. Organisasi yang fokus dengan pertukaran budaya ini antar negara ini, sengaja memilih Kampung Gundih sebagai jujukan, karena Kampung Gundih sudah menjadi buah bibir oleh sesama anggota yang berasal dari Whidbey Island dan Spokane (Washington DC, Amerika Serikat), serta Cape Town Afrika Selatan.

Hepi Hapsari selaku Exchange Director Friendship Force Surabaya mengatakan, Kampung Gundih sudah menjadi pembahasaan saat kongres internasional Friendship Force International di Vancouver, Canada tahun kemarin. Para rombongan sendiri yang meminta agar ditunjukan kondisi Kampung Gundih yang sesungguhnya.

“Mereka sendiri yang meminta dibawa menuju Kampung Gundih. Para anggota Friendship Force International saling berkirim foto dan informasi melalui email dan social media milik mereka,” tutur Hepi. (28/10/15).

Gundih sendiri dipilih karena tranformasi kampung yang dialami. Sebagiana diketahui, kampung ini dulunya adalah kampung biasa yang tak beda dengan kampung lain di kawasan pinggiran yan auh dari pusat kota. Namun, lantaran ada upaya dan kekompakan warganya, kampung ini akhirnya dikenal sebagai kawasan barometer kampung bersih Kota Surabaya.

Di sisi lain, Lurah Gundih Maria Yuliani mengatakan, bahwa Kampung Gundih mampu bangkit dari keterpurukan, kini masyarakatnya mampu berwiraswasta, para ibu rumah tangga pun ikut menjadi penggerak roda perekonomian keluarga. Bahkan, seluruh lapisan masyarakat bisa ikut serta saling menjaga kebersihan lingkungan.

“Masyarakat Kampung Gundih telah memiliki berbagai usaha sebagai penggerak roda ekonomi masyarakatnya,” tegasnya.

Mulai dari produk susu kamping etawa, olahan produk kulit, bahkan hingga kain batik. Ini yang membuat warga Kampung Gundih bangkit dari masa lalu.

“Selain itu, masyarakat turut menjaga lingkungan, ini yang membuat kampung gundih mendapat predikat best of the best kampung green and clean tahun ini,” imbuh perempuan kelahiran kota Surabaya ini.

Selain berkunjung ke Kampung Gundih, anggota rombongan ini juga mencicipi susu kambing Etawa dan menikmati kuliner soto dan gado-gado. Selain itu, mereka juga mengikuti panduan membatik yang diberikan oleh warga Gundih. Mereka diajarkan membatik di kain, dan topeng kayu.

“Setelah dari Gundih, besok mereka akan melakukan city tour di monumen yang ada di Kota Surabaya. Selama di Surabaya, mereka tinggal di rumah sesama anggota Friendship Force International. ” imbuh Hepi.

Kedatangan 16 warga asing itu pun disambut meriah oleh warga kampung Gundih. Sejak pagi mereka sudah berada di depan rumah masing-masing dengan mengenakan pakaian yang seragam. Mereka menyambut keedatangan warga asing itu dengan tarian tradisonal dan Reog Ponorogo. (KS1/RED)

Leave a Reply