8.6 C
New York
Sabtu, Desember 3, 2022

Buy now

Kinerja Intermediasi Perbankan Melambat, Namun Risiko Kredit tetap Terjaga

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Hingga April 2015, kinerja penyaluran kredit Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jawa Timur masih melambat, dari 11,99% (Maret 2015-yoy) menjadi 11,13% di April-2015 atau sebesar Rp.350,90 triliun.

Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Soekowardojo mengatakan, berdasarkan penggunaannya, perlambatan terutama terjadi pada kredit modal kerja yang memegang share terbesar (59,38%) dari total penyaluran kredit yaitu dari 12,54% (Maret 2015-yoy) menjadi 11,22% (April 2015-yoy).

“Di sisi lain, kredit konsumsi (share 26,69%) justru sedikit meningkat walaupun cenderung stabil yaitu dari 13,10% menjadi 13,13%,” ujar Soekowardojo.

Sejalan dengan perlambatan ekonomi, penyaluran kredit di sektor utama Jawa Timur juga melambat, kredit sektor industri pengolahan melambat dari 15,14% menjadi 13,95%, sektor perdagangan besar dan eceran melambat dari 12,71% menjadi 11,92%.

Begitu pula dengan sektor pertanian menurun dari 2,44% menjadi -0,56%. Hal yang sama juga terjadi pada Kredit UMKM yang turut melambat dari 10,83% menjadi 9,90%.

Sejalan dengan kondisi penyaluran kredit menurut Soekowardojo, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) turut melambat dari tumbuh 17,48% pada Maret 2015 menjadi 15,90% pada April 2015 atau tercatat sebesar Rp.398,37 triliun.

“Meskipun melambat, posisi pertumbuhan DPK pada periode ini sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (14,44%),” jelas Soekowardojo.

Di tengah berbagai perlambatan tersebut, kondisi kualitas kinerja kredit perbankan relatif baik. Risiko kredit yang tercermin melalui rasio NPL masih terjaga namun menunjukkan tren yang meningkat dari 2,15% menjadi 2,27%.

Hal serupa juga terjadi pada NPL UMKM yang meningkat dari 4,20% menjadi 4,37% pada periode April 2015. Meskipun demikian menurut Soekowardojo, NPL tersebut masih lebih rendah dari batas yang diwaspadai yaitu maksimal 5%.

Sedangkan risiko likuiditas perbankan yang tercermin dari rasio LDR sedikit meningkat dari 87,88% menjadi 88,08%, namun masih cenderung longgar dan memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap menyalurkan kredit. (Edmen Paulus)

Related Articles

Stay Connected

22,764FansSuka
3,592PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles