Mendag Sidak Pasar dan Tanjung Perak Surabaya

SURABAYA, (kabarsurabaya.com) – Menteri Perdagangan (Mendag) RI Rachmat Gobel bersama Gubernur Jatim Soekarwo melakukan sidak ke sejumlah pasar di Surabaya. Di antaranya Pasar Tradisional Wonokromo dan Pasar Beras di Bendul Merisi Surabaya.

Tujuannya memastikan harga sembako pada bulan Ramadan tidak mengalami gejolak harga yang tinggi.

Menteri Perdagangan (Mendag) RI Rachmat Gobel bersama Gubernur Jatim Soekarwo melakukan sidak di Pasar Wonokromo, Sabtu (20/6/2015)

“Saya sengaja berangkat pagi menuju Surabaya bertemu dengan Pak Gubenur dan Dinas Perindustrian Perdagangan Jatim terkait untuk melakukan sidak pasar guna memastikan harga kebutuhan pokok tidak naik. Hasilnya, di Pasar Wonokromo Surabaya harga sejumlah bahan pokok relatif stabil dan stok pangan Jatim aman,” ujarnya kepada wartawan usai sidak harga sejumlah kebutuhan bahan pokok di Pasar Tradisional Wonokromo Surabaya, Sabtu (20/6/2015).

Hasil dari pantauan di dua pasar tradisional Surabaya tersebut, harga-harga sembako, khususnya beras dan juga daging sudah kembali normal.

“Suplai sembako sangat mencukupi kalau hanya untuk selama bulan Ramadan dan Lebaran,” tukasnya.

Mendag juga mengatakan, suplai pangan untuk Jatim stoknya relatif aman. Bahkan, untuk harga bisa dikatakan stabil. Meski ada kenaikan harga akan tetapi tidak tinggi dan masuk pada batas kewajaran harga.

“Saya kira tidak perlu ada kekhawatiran bagi masyarakat pada bulan puasa dan lebaran nanti di Jatim akan kekurangan stok pangan. Kenaikan harga yang terjadi meskipun sedikit tidak melebihi harga nasional,” tegasnya.

Disinggung apakah perlu impor daging, mengingat sebelumnya saat harga daging begitu mencekik dan dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan masyarakat di Jatim hingga lebaran, Mendag menegaskan bahwa kebijakan impor daging tidak diperlukan.

“Suplai daging saat ini sudah mencukupi. Kalau suplainya sudah mencukupi, apakah masih diperlukan impor? Saya tegaskan tidak perlu,” tegasnya kepada wartawan usai sidak bersama Gubernur Soekarwo di Pasar Tradisional Wonokromo dan Pasar Beras Bendul Merisi Surabaya, Sabtu (20/6/2015).

Gubernur Jatim Soekarwo, yang sebelumnya menyatakan persoalan kekurangan stok daging tidak bisa diatasi dengan melakukan operasi pasar (OP). Karena pemprov tidak memiliki cold storage yang memadai, saat ini menegaskan bahwa suplai daging sudah sangat mencukupi.

“Karena itu, perlu untuk memastikan kelancaran suplai bahan pokok masuk ke pasar serta memastikan harmonisasi barang dan kebutuhan untuk efisiensi harga,” kata Rachmat

Di Pasar Wonokromo informasi harga bahan pokok dan jenisnya seperti Beras IR 64 sebesar Rp 9.800-11.000 per kg, Gula Pasir Rp 12.000 per kg, Minyak Goreng Curah Rp. 11.000, Daging Sapi Murni Rp 98.000-99.000 dan Daging Ayam Broiler Rp 29.000. Sementara untuk telur ayam broiler berkisar harga Rp 21.000.

Sementara berdasarkan data harga kebutuhan pokok dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, Beras IR 64 (Premium) sekitar Rp 9.002, Gula Pasir Rp 11.916, Minyak Goreng 11.539, Daging Sapi Murni Rp 95.363, dan Daging Ayam Broiler Rp 29.521. Sementara untuk telur ayam broiler berkisar di harga Rp 20.236

Kunjungi Tanjung Perak

Mendag dan jajarannya, selain terjun langsung memonitor Pasar Wonokromo dan Pasar Bendul Merisi di Surabaya, juga mengecek pelabuhan rakyat antarpulau di Tanjung Perak, Surabaya.

Peninjauan pelabuhan rakyat antarpulau Tanjung Perak Surabaya tersebut dimaksudkan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan implementasi proses pengurusan hingga realisasi serta besaran waktu bongkar-muat angkut barang dan prioritasnya.

“Saya ingin memastikan bahwa perizinan yang dikeluarkan oleh Kemendag telah berjalan sesuai dengan indikator yang diharapkan,” tegasnya.

“Bongkar-muat bahan bahan pokok di pelabuhan harus bisa berjalan lancar dan sesuai dengan jadwal, karena hal tersebut akan berpengaruh pada distribusi pengangkutan bahan pokok ke daerah-daerah melalui laut,” tambah Rachmat.

Selain melakukan peninjauan di berbagai daerah, ia juga menegaskan akan terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait antara pusat dan daerah. Hal ini untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi agar lalu lintas barang berjalan lancar dan memastikan tidak terjadi lonjakan harga melebihi batas kewajaran. (Edmen Paulus)

Leave a Reply