8.4 C
New York
Minggu, Mei 9, 2021

Buy now

Program Whistle Blowing System (WBS) OJK Mulai Berjalan




SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar program penguatan integritas dengan revitalisasi OJK Whistle Blowing System (WBS) dan pelaksanaan Program Pengendalian Gratifikasi. Revitalisasi sistem pelaporan itu terkait dicanangkannya tahun penguatan integritas OJK di 2015.

Kepala Departemen Manajemen Resiko dan Pengendalian Kualitas OJK (Kiri) di Surabaya
“OJK WBS sebenarnya sudah dirilis tahun 2013 lalu. Tapi kurang mendapat sambutan. Ini terbukti hanya 1 laporan yang masuk. Mungkin edukasi dan sosialisasi belum sepenuhnya diterima masyarakat atau tingkat kepercayaan masyarakat ke OJK yang belum cukup, takut ada masalah kalau melapor dan lain-lain,” kata Kepala Departemen Manajemen Resiko dan Pengendalian Kualitas OJK, Hidayat Prabowo di Surabaya, Selasa (26/5/2015).

‎Dikatakan Hidayat, karena hanya ada ada satu laporan yang masuk, kemudian dilakukan perbaikan, termasuk pola sosialisasinya. Dan setelah diperbaiki, sekitar 2 bulan terakhir telah masuk 17 laporan.

“Cukup banyaknya laporan yang masuk ini bukannya membuat kami senang, karena itu berarti masih banyak yang harus dikerjakan. Namun kami cukup berlega hati karena itu berarti edukasi yang kami lakukan ada efeknya. Meskipun apakah laporannya sudah tepat atau belum masih perlu diteliti lagi aspek validitasnya,” lanjutnya.

Adapun sanksi diberikan jika terbukti ada kesalahan setelah verifikasi bukti dari WBS. Verifikasi dilakukan berdasarkan kode etik dan peraturan di OJK, mulai dari sanksi ringan hingga pemecatan. Jika menyangkut pidana, maka akan diteruskan kepada aparat penegak hukum.

Ditambahkan, untuk proses validasi membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Dan diakui, ternyata masih ada pelaporan yang salah sasaran.

“OJK mendorong pelaku di industri jasa keuangan dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dengan melaporkan fakta dan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh insan OJK melalui OJK WBS,” katanya.

Revitalisasi, antara lain peningkatan integritas sistem melalui enkripsi data dengan teknologi mutakhir yang aman, anonimitas. Sistem perlindungan pelapor, dan user interface yang lebih sederhana. Pelapor dapat memantau perkembangan laporannya. Semua itu dilakukan oleh pihak independen. Selain revitalisasi, OJK juga meluncurkan program pengendalian gratifikasi guna pencegahan korupsi.

“Ini adalah budaya baru untuk meneliti lebih dulu apakah yang diterima ada kaitannya dengan gratifikasi atau tidak. Bentuknya uang, hadiah, pelayanan, fasilitas. Apakah di hotel dijamin makan yang tidak sepantasnya. Itu bisa masuk gratifikasi. Dan, kalau tidak dilaporkan bisa masuk kategori korupsi,” tandasnya. (Edmen Paulus)




Related Articles

Stay Connected

21,933FansSuka
2,508PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles