PT STAR Cicil Deviden ke Pemkot, PT FEO Kukuh Tak Mau Kalah

SURABAYA (kabarsurabaya.com) Konflik antara pemkot dengan PT FEO terkait pembubaran PT STAR sebagai pengelola Taman RemaJa Surabaya kian meruncing. Terutama pasca RUPS luar biasa kedua dihelat, PT FEO selaku salah satu pemegang saham TRS tetap belum sepakat untuk membubarkan PT STAR sebagaimana yang diperjuangkan pemkot. Gara gara hal itu, kini pemkot mulai buka bukaan soal kelemahan PT STAR.

Hal tersebut disampaikan oleh M TAswin selaku asisten dua pemkot surabaya bidang prekonomian dan pembangunan. Ia menyatakan saat ini kondisi keuangan PT STAR semakin memprihatinkan.

“Cash flow mereka sudah sangat kacau. Bahkan bayar keuntungan ke kita itu dia nyicil lho. Intinya kalau sudah begitu apa lagi yang dipertahankan,” kataTaswin, kemarin. (9/11/15).

Setidaknya ada dana deviden sebesar Rp 258 miliar yang dibayarkan PT STAR kepada pemkot tahun 2015 sebagai laba tahun 2014. Selain itu Taswin juga menyatakan bahwa saat ini PT STAR juga sudah tidak memiliki uang cash.

Hal tersebutlah yang membuat pemkot ingin segera mengakhiri kerja sama dengan membubarkan PT STAR yang sudah dibangun pemkot dengan PT FEO sejak tahun 1960 an itu. Terlebih ada juga peraturan yang membuat keberadaan PT STAR sudah tidak relevan lagi.

Mulai dari nilai keuntungan yang dibayarkan tidak sesuai dengan nilai aset. Hingga adanya perda yang mengatur tentang usaha pariwisata dan taman hiburan. “Usaha wisata taman hiburan itu minimal tiga hektar. Nah TRS ini nggak sampai satu hektar,” imbuh Taswin.

Akan tetapi upaya pemkot untuk mengambil alih asetnya di Taman Remaja Surabaya (TRS) dipastikan masih akan memnemui banyak kendala. Pasalnya adanya deadlock di RUPS LB kedua itu akan menambah waktu tidak kunjung kembalinya aset THr ke tangan pemkot. Padahal sebelumnya pemkot menargetkan akhir tahun ini aset sudah berpindah tangan ke pemkot secara keseluruhan.

Sebab dengan masih menggantungnya hasil RUPS kedua kemarin, pemkot masih belum bisa melakukan tindakan lanjutan. Sesuai aturan, pemkot bisa saja melakukan gugatan. Akan tetapi harus melalui tahapan RUPS ketiga terlwbih dahulu.

“Kita beri kesempatan mereka untuk hadir lagi dalam RUPS yang ketiga. Kami harap nggak sampai sebulan lagi sudah bisa menghasilkan kesepakatan,” kata Taswin.

Jika memang di RUPS ketiga tidak ada keputusan, baru setelah itu pemkot bisa mengambil langkah hukum. Artinya pengambilan aset terpaksa tidak berhasil dilakukan tahun 2015.

Di sisi lain, dalam RUPS kedua kemarin, pemkot juga sempat mengajukan perpanjangan untuk komisaris dan direksi yang mewakili pemkot yang memang masa jabatannya sudah habis. Perpanjangan jabatan itu dilakukan untuk tiga bulan ke depan. Dengan harapan dalam tempo tersebut aset sudah kembali lagi pada pemkot.

Sedangkan dari pihak investor, mereka juga mengajukan perpanjangan selama satu tahun. “Mereka mengajukan waktu lebih lama karena mereka tidak ingin bubar kan,” imbuhnya.

Pria berkumis ini meminta agar PT FEO ke depan bisa realistis terhadap kondisi PT STAR yang saat ini sudah dikatakan lemah. Mulai dari kondisi cash flow, tidak adanya hak ijin bangunan sejak 2006, dan juga tidak adanya ijin gangguan sejak tahun 2013. Selain itu alasan pemkot ingin membubarkan PT STAR adalah terkait peraturan daerah yang tidak membolehkan usaha wisata kurang dari tiga hektar. (KS1/RED)

Leave a Reply