Eklamsia Masih Menjadi Penyebab Tertinggi Kematian Ibu Hamil

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Eklampsia sebagai kejadian kejang pada ibu hamil akibat Hipertensi dalam kehamilan (pre eklampsia) telah menjadi penyebab kematian ibu hamil terbesar yaitu 35 %, diikuti oleh kematian akibat pendarahan 25%.

Karena itulah, Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo M.Si menyatakan, perang melawan Eklampsia. Ini disampaikannya saat membuka “East Java Healthy Festival (EJHF) 2015” ke-4 dan Pencanangan Hari Kesadaran Eklampsia (Eclampsia Awareness Day) di Grand City Surabaya, Rabu (4/11/2015).

Dalam sambutan pembukaan event yang diikuti 40 peserta dari perwakilan rumah sakit umum daerah dan swasta, serta klinik kecantikan dan perusahaan makanan dan minuman ini, Bude Karwo (sapaan akrabnya) mengatakan, bahwa perang melawan Eklampsia harus dilakukan oleh seluruh komponen dari berbagai latar belakang. Mulai dari akademisi, sektor kesehatan, tenaga medis, mahasiswa, remaja, organisasi dan lembaga kemasyarakatan yang peduli untuk keselamatan ibu hamil.

“Bersama-sama, di tempat ini kita sepakat untuk mencanangkan Hari Kesadaran Eklampsia, dan sekaligus pernyataan perang melawan eklampsia,” tegasnya.

Menurut Bude Karwo, pembangunan kesehatan, merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Kesadaran inilah yang akan dibangun pada setiap level masyarakat, baik pelaksana kesehatan maupun stakeholder agar kemauan untuk hidup sehat dapat diwujudkan terutama bagi ibu hamil dan bayi yang sehat.

“Salah satu tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang tinggi,” terangnya.

Bude Karwo sapaan akrabnya menjelaskan bahwa angka kematian ibu di Jatim telah menujukkan trend penurunan yang positif. Namun secara jumlah, angka kematian ibu di Jatim masih cukup besar yaitu 567 ibu meninggal di tahun 2014 dan hingga September 2015 terdapat 413 ibu yang meninggal.

“Jatim sebenarnya sudah on the track. Tidak selayaknya, wanita meninggal di saat memberikan satu kehidupan baru,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Penakib (Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi) Jatim dr Agus Sulistyono sepakat bahwa Eklampsia harus dilawan. Karena saat ini penyebab angka kematian terbesar di Indonesia adalah Angka Kematian Ibu (AKI).

“AKI sangat tinggi harus diturunkan. Maka, kita membuat satgas dengan jangka waktu tertentu dengan target penurunan AKI sebesar 25% setiap tahun di Jatim,” urainya.

Ia menjelaskan, lebih dari 50 % Eklampsia yang menyebabkan kematian berasal dari pendarahan dan pre eklampsia. Karena itu ia berharap semua ibu-ibu wajib memeriksakan diri sejak awal kehamilan atau bahkan sejak sebelum hamil. Ibu yang gemuk, memiliki gejala kencing manis hingga yang terlalu muda rentan terdampak.

“Eklampsia bukan merupakan penyakit yang tiba-tiba, melainkan bisa terdeteksi terutama bagi ibu hamil yang berusia 20 minggu keatas. Makanya sekarang Penakib Jatim akan bergerak menyosialisasikan Hari Kesadaran Eklampsia ini pada usia dibawah kandungan 20 minggu,” ujarnya.

Sementara itu, Kadinkes Prov. Jatim dr. Harsono melaporkan, bahwa kematian ibu masih menjadi masalah di Jatim. Setiap tahun terjadi trend penurunan. Akan tetapi, Jatim harus tetap berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kematian ibu dan bayi.

Untuk itu, semua komponen harus terinspirasi dari kegiatan pendampingan ibu hamil resiko tinggi oleh kader, untuk peduli menurunkan kematian ibu hamil. Salah satu upayanya yakni terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan memberi informasi dan mengedukasi masyarakat untuk berprilaku hidup sehat.

“Kegiatan Promotiv dan Preventiv menjadi pilar kegiatan kesehatan. Namun, tetap tidak meninggalkan penanganan seacara kuratif dan rehabilitative,” pungkasnya. (Ep)

Leave a Reply