Ekoturisme Bukan Hanya Wisata Alam

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Pemberdayaan masyarakat adalah faktor penting dalam menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan. Pernyataan itulah yang bisa disimpulkan dari pelaksanaan “Seminar Ekoturisme: Conservation through Responsible Tourism”, yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) Universitas Airlangga, di Aula Kahuripan, Kantor Manajemen UNAIR, Kampus C Mulyorejo Surabaya, Minggu (10/4/2016).

Ekoturisme Bukan Hanya Wisata Alam

Menurut Nurdin Razak, pengajar pada prodi D-III Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair, konsep ekoturisme banyak dikenal oleh masyarakat. Namun, tak banyak yang bisa mengartikan atau memahami konsep ekoturisme sendiri. Ia juga mengatakan ada tiga ciri ekoturisme, yaitu konservasi alam, memberdayakan masyarakat lokal melalui ekonomi, dan edukasi.

“Sayangnya, wacana ekoturisme yang terlanjur beredar hanyalah mengacu pada wisata alam. Padahal, konsep ekoturisme yang terpenting adalah pemberdayaan masyarakat,” terangnya.

Ia mencontohkan bagaimana melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan pariwisata Taman Nasional Baluran Jawa Timur, dengan mengubah perspektif dia.

“Contohnya ada tukang ojek. Dan saya bilang ke dia, kalau ada sarang elang, beritahu ke saya lalu saya kasih uang Rp 150 ribu. Dengan begitu, dia akan menunda untuk memburu sarang elang itu. Begitu seterusnya, sampai saya berhasil mendatangkan pengunjung untuk melihat sarang burung tersebut,” tutur Nurdin.

Bagi Nurdin, warga juga perlu diberdayakan dengan kompetensi dan pengetahuan untuk memaksimalkan potensi kekayaan alam dan kekhasan lokal di tempat mereka tinggal.

“Bila warga sudah memiliki kompetensi yang dibutuhkan, warga akan memberikan pelayanan terbaik kepada para turis,” lanjut Nurdin.

Menurut Nurdin, wisata bahari juga bisa dikelola dengan mengedepankan konsep ekoturisme. Ada banyak peluang yang bisa digarap dengan memanfaatkan kekayaan pesisir, bawah laut, dan budaya daerah pesisir.

“Misalnya kapal kebanggaan suku Bugis, Pinisi. Kalau para turis bisa diajak untuk berpartisipasi atau sekadar melihat cara pembuatan kapal, itu akan bagus sekali,”terangnya.

Namun sekali lagi ia tegaskan bahwa konsep ekoturisme tidak sekadar tentang wisata menikmati alam bebas, tetapi bagaimana melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi melestarikan lingkungan dan menjaga kearifan lokal. (EP)

Leave a Reply